Dituding “Rampok” Uang Nasabah, Ini Penjelasan Bank BRI

0 Komentar

Debitur mendemi Bank BRI Cabang Watampone karena merasa ditipu Rabu, 15 Januari. (FOTO: AGUNG PRAMONO/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, WATAMPONE — Setelah dituding merampok aset nasabah, Bank BRI akhirnya angkat bicara.

Corporate Secretary Bank BRI, Hari Purnomo mengatakan, Djasdar merupakan debitur Bank BRI dengan fasilitas pinjaman KPR sebesar Rp900 juta dan KUR Rp300 juta. Pada tahun 2014, kredit tersebut macet sehingga harus dilakukan proses lelang sesuai dengan ketentuan.

Bank BRI kata dia, memastikan bahwa seluruh proses operasional perbankan telah dilaksanakan dengan prinsip kehati-hatian. “Bank BRI senantiasa mematuhi proses hukum, apabila debitur merasa dirugikan, agar dapat diselesaikan melalui saluran hukum sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya kepada FAJAR Jumat (17/1/2020).

Bahkan pihak BRI akan mengambil langkah hukum jika merusak bank berplat merah itu. “Bank BRI dapat mengambil langkah-langkah ke saluran hukum apabila terdapat perbuatan debitur yang dengan sengaja berusaha merusak reputasi Bank BRI,” jelas Hari

Sebelumnya, Bank BRI Cabang Watampone diduga merampok aset nasabahnya sendiri. Sebab, melakukan pelelangan tanpa sepengetahuan debiturnya. Bahkan, dilelang di bawah harga jual.

Djasdar diketahui sebagai pemilik ruko. Pada tahun 2010 menjaminkan dua ruko yang berada di Jl Jend Ahmad Yani sebanyak Rp1,8 miliar. Itu berjalan lancar sampai tahun 2012. Setelahnya itu sudah mulai mandek.

Pihak bank kemudian melakukan pelelangan dengan harga Rp1,08 miliar per unitnya. Sehingga harga lelang dua ruko itu senilai Rp2,1 miliar lebih. Pemilik menduga bahwa pelelangan yang dilakukan oleh Bank BRI hanyalah rekayasa saja, dan setelah dilakukan lelang tidak ada proses transparansi yang diberikan kepada debitur.

“Ada kesalahan yang dilakukan oleh pihak bank. Hasil sisa lelang tidak dikembalikan ke saya selaku debitur,” kata Djasdar saat ditemui di Bank BRI Rabu, 15 Januari.

Kata dia, hal ini juga sudah dilaporkan kepada Polres Bone. Penyidik sudah melakukan gelar perkara, namun langsung menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyelidikan (SP3). “Kami duga ada tindak pidana perbankan yang dilakukan oleh Kepala Cabang BRI Cabang Pembantu BTC Watampone,” jelasnya.

Pengacara Djasdar yakni, Muh Yahya Rasyid menambahkan bahwa, uang selisih lelang senilai Rp300 juta itu digelapkan dan dimasukkan ke rekening orang lain. “Dan saat dilakukan pembongkaran itu tanpa putusan pengadilan. Aset di dalam ruko juga dikemanakan. Dan sisa lelangnya mana,” tanyanya.

Harusnya kata dia, pelaksanaan eksekusi harus melalui penetapan pengadilan. Pihak bank tidak boleh main hakim sendiri. Dalam perkara ini, baik BRI maupun pemenang lelang harus jadi tersangka karena terbukti melakukan lelang tidak sesuai prosedur.

“Pasal 55 KUHP jelas. Turut serta melajukan tindakan pidana perbankan. Perampokan aset nasabah. Peserta lelang hanya satu. Lelang itu harusnya lebih dari satu. Polisi juga harusnya melakukan penyidikan secara komprehensif jangan sepenggal sepenggal,” tegasnya.

Sementara Kepala Cabang BRI Watampone, Rahardian Umardani tak ingin menanggapi lebih jauh persoalan itu. “Tadi sudah diterima baik-baik di kantor. Mohon maaf sebelumnya kami belum bisa memberikan penjelasan lebih lanjut,” singkatnya. (gun/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...