Jejak Sejarah, Masjid ini Pernah Menjadi Gudang Persenjataan Kerajaan Gowa

0 Komentar

Masjid Babul Firdaus Jl Kumala adalah salah satu Masjid Tua yang ada di Makassar--TAWAKKAL/FAJAR

Kerajaan Gowa takluk dalam Perjanjian Bongaya 1667. Tetapi, perjuangan rakyat menentang penjajah tidak berhenti.

Laporan: RUDIANSYAH

FAJAR.CO.ID — Senjata untuk perang disembunyikan di dalam Masjid Firdaus di Jalan Kumala, Kelurahan Jongaya, Kecamatan Tamalate. Tak jauh dari Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Sekitar lima meter. Letaknya di atas loteng, di bawah kubah utama.

Hanya saja, gudang persenjataan itu sudah tidak ada sekarang. “Terpaksa kami bongkar pada tahun 2010, karena kayunya sudah rapuh. Apalagi empat tiang besinya juga mulai kami ragukan. Takut roboh,” kata Ketua Pengurus Masjid Firdaus, Andi Ali Bau Sawa saat ditemui usai salat zuhur, Kamis, 16 Januari.

Lelaki berusia 53 tahun itu, menunjuk titik tiang besi, lalu mengarahkan telunjuknya ke gudang persenjataan. Kubah itu dulunya ada plafon kayu dibuat datar. Di sudut belakang sebelah kiri, ada pintu kecil. Tempat untuk masuk ke dalam gudang.

“Masjid ini dibangun oleh Raja Gowa ke-34 Imakkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Husain Tumenanga ri Bundu’na, tahun 1893. Jadi Usianya sekarang sudah 127 tahun,” rincinya.

Andi Ali Bau Sawa menceritakan bagaimana Sultan Husain membangun Masjid Firdaus sebagai tempat untuk syiar agama Islam. Sekaligus menjadi tempat para ulama untuk bertukar pikiran kala itu. “Rakyat lah alasannya,” bebernya didampingi Anggota Pengurus Masjid, Hamzah Dg Tayang (49).

Masyarakat yang harus menempuh perjalanan sekitar tiga sampai puluhan kilo ke Masjid Katangka, membuatnya harus membangun Masjid Firdaus. “Masjid ini tidak pernah lepas dari penjagaan penjajah,” ungkapnya.

Hingga akhirnya, perang Jongaya meledak. Belanda menyatakan Sultan Husain meninggal dunia di peperangan terbesar setelah perang yang dipimpin Sultan Hasanuddin. Tapi versi lain, Sultan Husain ke rumah ibunya di Kabupaten Barru.

“Makanya yang melanjutkan kepemimpinannya (Sultan Husain) adalah putranya, Andi Mappanyukki. Usianya saat itu sekitar 20 tahun,” ucap Cicit Andi Mappanyukki itu.

Kakek buyut Andi Ali Bau Sawa saat itu juga membangkang. Ia melakukan peperangan melawan Belanda pada tahun 1905, hingga diasingkan ke sejumlah daerah di Sulsel, seperti Pulau Selayar dan Toraja.

“Setelah itu, renovasi pertama masjid ini akhirnya dimulai di tahun 1952. Renovasi kedua sekitar tahun 1977 di masa kepengurusan Haji Mohammad Djawad Abdullah Daeng Salle,” kenangnya.

Ada banyak perubahan di masjid ini. Di antaranya ukuran masjid yang awalnya hanya berukuran 100 meter persegi, sudah menjadi 750 meter persegi. Ruas yang ditambah itu bagian depan, kiri, dan kanan.

“Dulu, namanya Masjid Gowa Jongaya. Menaranya berada di luar (pekarangan). Sekarang menara itu sudah di tengah,” katanya sembari melihat badan menara. Lalu menunjuk foto masjid yang terpajang di dinding masjid. Samping kiri letak imam berada.

Menara itu tidak tersentuh sampai sekarang. Bentuknya masih sama. Tingginya 12 meter dengan memiliki 52 anak tangga.

“Dulu, orang azan di atas pakai terompet yang terbuat dari seng. Saya sendiri yang sering azan di atas. Mulai tahun 50-an sampai tahun 80-an masih di atas menara,” kata Mahmud Dg Ngitung usai mendirikan salat sunnah.

Selain menara, Mahmud Dg Ngitung, menunjuk mimbar yang terbuat dari kayu hitam. “Sejak masjid ini ada, mimbar itu tidak pernah berubah. Lima anak tangga itu punya filosofi. Artinya lima rukun Islam,” bebernya.

Beduk yang berada di sudut kiri masjid juga masih bertahan sampai saat ini. “Itu terbuat dari pohon lombok. Masih difungsikan sampai sekarang,” ucapnya.

Lelaki berusia 77 tahun itu ingat betul di masjid ini para Panrita (guru) membagi pengetahuan. Salah satunya Dg Masalle. Kuburannya di samping masjid. Ada puluhan kuburan lainnya.

Soal keberadaan gudang senjata, Mahmud Dg Ngitung tidak menafikkan hal itu. Saat selesai menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat, ia pernah melihat beberapa senjata api disimpan.

“Begitulah dulunya. Karena saat itu Belanda menguasai. Hingga berhasil mengusir Belanda, masjid ini berubah nama menjadi Babul Firdaus. Artinya, Pintu Surga,” imbuhnya seraya tersenyum. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...