“Runtuhnya” Keraton Agung Sejagat, Pengikut Masih Ada yang Optimis

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Totok Santosa (kanan)- Fanny Aminadia(kiri). (BUDI AGUNG/JAWA POS RADAR JOGJA)

Beberapa warga sekitar juga sempat direkrut. Hanya, banyak yang keluar karena tak mampu membayar iuran keanggotaan. Karena itulah, segelintir saja warga di sekitar keraton yang ikut di KAS. Empat orang saja.

Dalam kolomnya di Jawa Pos (16/1), Adrian Perkasa menulis, revivalisme Majapahit yang dimaksud dalam kasus KAS adalah ide akan kebangkitan suatu masa keemasan yang pernah dicapai kerajaan tersebut pada masa lalu. Menurut Henley dan Davidson (2008), revivalisme semacam itu semakin menjamur di Indonesia pascareformasi karena berbagai faktor. Di antaranya, politik, ekonomi, dan sosial.

Dalam bahasa lain, kepincutnya para penggawa KAS akan iming-iming seragam, jabatan, dan bayaran itu bisa jadi karena dalam benak mereka sudah tertancap keyakinan akan zaman kemakmuran itu. Zaman ketika kekuasaan dunia dikembalikan ke Jawa dan segala kemerosotan dibenahi, seperti yang dijanjikan Totok lewat KAS.

Siti mengenang bagaimana Totok pernah bercerita bahwa dirinya pernah jadi agen CIA, lembaga intelijen Amerika Serikat (AS). Di lain waktu, Totok juga mengaku pernah menerbangkan pesawat tempur dari Pentagon alias Kementerian Pertahanan AS.

Siti dan Teguh tak tahu apa itu CIA dan Pentagon. Tapi, mereka kagum dan percaya penuh dengan cerita sang raja.

Alasan yang kurang lebih sama, mungkin, yang menyebabkan pula kemunculan sejumlah kerajaan baru. Ada Sunda Empire-Earth Empire di Bandung. Pajang di Sukoharjo dan Djipang di Cepu, Blora.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam


Comment

Loading...