Merinding Baca Pengakuan Pebulutangkis Korea Soal Awal Persahabatannya dengan Greysia Polii

0 Komentar

Greysia Polii dan Chang Ye Na / Badmintonindonesia.org

FAJAR.CO.ID, JAKARTA—Semua berawal dari pesan mengejutkan dan menyentuh hati seorang Greysia Polii. Pebulutangkis Indonesia itu lantas menjalin persahabatan dengan pemain ganda putri Korea, Chang Ye Na.

Chang Ye Na merasa doanya terkabul bisa mendapatkan sahabat sesama pemain badminton dan seagama dengannya. Bertahun-tahun mereka saling support. Mereka pun sudah saling mengenal keluarga. Gryesia bahkan pernah ke rumah orang tua Ya Na dan tidur di kamarnya saat mengikuti turnamen di Korea.

Bagaimana awal persahabatan mereka dan apa yang ingin dilakukan bersama oleh Greysia dan Ya Na saat sudah pensiun dari dunia bulutangkis? Berikut petikan wawancara Badmintonindonesia.org dengan Greysia dan Ye Na:

Bagaimana awalnya Greysia dan Ye Na menjadi teman dekat?

Ye Na: Kami sudah kenal sejak di level junior karena kami sering bertanding dan saling berhadapan di lapangan. Awal dekat itu sejak Badminton Asia Championships 2016. Saat itu Greysia dan Nitya (Krishinda Maheswari) bikin rekor dunia melewati pertandingan panjang melawan pasangan Jepang (Naoko Fukuman/Kurumi Yonao). Kalau Greysia/Nitya menang, saya dan Lee So Hee dapat tiket ke Olimpiade Rio 2016, tapi ternyata mereka kalah, pupus sudah harapan saya ke olimpiade.

Setelah pertandingan itu, Greysia mengirim pesan ke saya, menanyakan bagaimana peluang saya ke olimpiade, mungkin dia tidak tahu poin saya kurang atau apa. Saya jawab “All gone, saya tidak mungkin ke olimpiade, karena di final, Fukuman/Yonao akan bertemu dengan sesama pasangan Jepang (Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi),”.

Tapi Greysia bilang kepada saya “I’m so sorry for you. Tapi semua ini belum berakhir, mungkin saja ada keajaiban di final besok. Jangan menyerah, mari kita berdoa bersama, saya akan berdoa untukmu,”.

Pesan ini sangat mengejutkan saya, menyentuh hati saya. Saya pikir, saya tidak dekat dengan dia, dia bukan pemain senegara dengan saya, kenapa dia begitu empati kepada saya? Saat perebutan tiket olimpiade ini adalah masa-masa yang berat buat saya, begitu banyak tekanan dan tegang sekali, tapi tiba-tiba saya mendapat dukungan dari orang yang biasa menjadi lawan saya di lapangan, waktu itu kami belum dekat sama sekali.

Greysia: Sebetulnya saya juga tidak tahu, saat itu saya merasa peduli sama dia, padahal belum dekat. Saya tahu rasanya jelang olimpiade itu sangat berat apalagi saat kejar-kejaran poin. Saya merasa saya harus menyemangati dia, karena pertarungan belum berakhir, apa saja bisa terjadi. Ternyata benar saja, dia akhirnya lolos, karena Fukuman/Yonao dikalahkan temannya sendiri di final.

Apa pendapat Ye Na sejauh ini sudah berteman dengan Greysia? Apa yang istimewa dari Greysia sebagai teman dekat?

Ye Na: Dia adalah teman yang baik. Dari dulu saya selalu berdoa supaya punya teman sesama pemain badminton dan seagama dengan saya, karena saya bisa bertukar pikiran soal agama. Ternyata doa saya terkabul, kadang tidak mudah untuk bicara dengan orang lain karena mereka tidak mengalami apa yang kami (pemain badminton) alami. Sedangkan bersama dia, saya bicara soal apa pun, dari badminton hingga hal yang lain.

Greysia: Iya, kami bisa bicara soal apapun, dari badminton, keluarga, sampai curhat urusan cinta juga, ha ha ha. Dulu awal dekatnya juga kerena saat turnamen, saya sering mengajak dia pergi ke gereja bersama.

Apakah Greysia dan Ye Na pernah bertengkar?

Ye Na: Greysia adalah teman yang sangat baik. Tapi kepribadian kami sangat berbeda jauh. Saya lebih konservatif dan cenderung pendiam, saya lebih banyak observasi dulu. Sebaliknya, dia sangat BOOM, BOOM, BOOM!! Kalau ketemu, dari baru datang saja sudah ramai: HEEEEIIIIIIYYY, HEELLOOOOOW, ha ha ha. Perbedaan ini masih butuh penyesuaian dan kadang sulit buat kami berdua, jadi bikin berantem. Ibaratnya Greysia itu api, saya air, dia selalu on fire.

Bukankah pemain Korea juga ramai dan on fire di lapangan? Atau itu hanya di lapangan saja?

Ye Na: Saya rasa itu hanya di lapangan saja, tapi kalau di luar lapangan, mereka lebih kalem. Kalau Greysia, di lapangan on fire, di luar lapangan on fire, sepertinya 24 jam dia on fire. Ha ha ha.

Bagaimana Ye Na dan Greysia berkomunikasi dari segi bahasa?

Ye Na: Dulu saya kalau chat dengan dia, pasti pakai aplikasi translator. Lalu Greysia mendorong saya untuk belajar bahasa Inggris. Sekarang saya sudah bisa berbahasa Inggris kalau ngobrol sama dia, nggak perlu pakai translator lagi. Greysia pun sudah lancar berbahasa Korea, kata teman-teman di tim saya, bahasa Korea dia sangat lancar.

Greysia: Iya saya sudah lumayan bisa bahasa Korea, termasuk membaca huruf hangeul. Saya mengerti mereka bicara apa, tapi saya belum bisa berbicara lancar dalam bahasa Korea.

Sepertinya Ye Na dan Greysia sudah dekat sekali, sampai kenal dengan keluarga masing-masing dan liburan bareng?

Ye Na: Iya, kami sudah kenal dengan keluarga masing-masing. Waktu tanding di Korea, saya masih tanding dan Greysia sudah tidak bertanding. Dia pergi sendirian ke rumah mama saya dan tidur di kamar saya. Hal ini tidak aneh buat kami, tapi teman-teman saya kaget, ternyata kami sedekat itu, ha ha ha.

Greysia: Tadi awalnya saya juga minta dia ke rumah mama saya selama Indonesia Masters, tapi tim Korea itu jadwalnya ketat sekali, jadi dia nggak sempat main ke rumah mama saya, ha ha ha.

Setelah menjadi teman dekat, apakah Greysia dan Ye Na pernah merasa aneh saat harus bertemu di lapangan, melawan teman sendiri?

Ye Na: Awalnya saya sempat merasa aneh, canggung, tapi setelah itu, saya mulai terbiasa dan bersikap profesional. Teman di luar lapangan, di lapangan tetap jadi lawan.

Greysia: Kalau ketemu dia, tetap ingin menang, apalagi kalau sebelumnya kalah, ya mau balas. Teman sih teman, di lapangan ya di lapangan, beda lagi ceritanya. Saya rasa ini hal yang wajar, dia pun pasti seperti itu, harus profesional.

Apakah Greysia dan Ye Na pernah saling membicarakan soal pertandingan kalian berdua? Saat saling berhadapan?

Ye Na: Saya tahu kelebihan dan kekurangan Greysia, tapi saya tidak pernah mengatakannya ke dia, karena itu kan strategi, ha ha ha.

Greysia: Kalau lagi di turnamen sih enggak ya, karena kan fokus dan tensinya tinggi. Paling kalaupun ngobrol soal pertandingan itu saat akhir tahun, misalnya kami lagi libur. Baru diomongin, bukan dengan nada men-judge, lebih ke memberi tips yang sifatnya umum. Kalau strategi, itu kan rahasia dapur masing-masing, kami tahu batasannya sejauh mana.

Saya sama teman-teman di tim Korea pun sudah cukup dekat, walau sering ketemu di lapangan. Misalnya bercanda soal mereka kalau di lapangan selebrasi dapat poin kan teriak kencang sekali, saya juga sering meledek Hye Rin (Kim Hye Rin, pasangan Ye Na). “Kamu kalau teriak kencang sekali sih, apa nggak sakit itu tenggorokan kamu?”. Lalu dia tertawa dan bilang “Biarin aja, memangnya kamu teriaknya nggak kencang? Sama saja dengan saya!”. Ha ha ha.

Ye Na sudah sering ke Indonesia, pasti sudah merasakan banyak makanan Indonesia. Makan yang masih belum kesampaian?

Greysia: (bicara ke Ye Na) Apa ya? Nasi Goreng dan sate kan sudah?

Ye Na: Mie Ayam! Greysia belum mengajak saya makan mie ayam. Saya lihat orang makan mie ayam sepertinya enak sekali.

Greysia: Oh iya, Ye Na maunya makan mie ayam di gerobak di pinggir jalan, saya takut nggak cocok atau kurang bersih, kan dia nggak terbiasa, nanti dia sakit perut. Ha ha ha.

Apa ada cita-cita atau keinginan Greysia dan Ye Na yang belum terwujud?

Ye Na: Suatu saat nanti kalau sudah pensiun main bulutangkis, kami ingin liburan ke Amerika Serikat.

Greysia: (tertawa) Yaaa, kami ingin sekali mengunjungi Amerika Serikat, mudah-mudahan nanti terwujud. Kalau sudah pensiun dan tidak ketemu lagi di turnamen, dia akan main ke Jakarta dan saya ke Seoul. Kalau tidak, kami akan liburan bersama. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...