Anggota Parlemen Iran Siapkan Hadiah Rp40,9 Miliar untuk Bunuh Donald Trump

Presiden AS Donald Trump

FAJAR.CO.ID, TEHERAN– Seorang legislator Iran pada Selasa menawarkan hadiah USD 3 juta atau setara Rp40,9 miliar, kepada siapa saja yang membunuh Presiden AS Donald Trump. Tawaran itu sebagai upaya pembalasan terhadap pembunuhan jenderal besar Qassem Soleimani.

Duta Besar Perlucutan Senjata Amerika Robert Wood langsung merespons sikap anggota parlemen Iran itu dengan menyebut tawaran hadiah itu sebagai ” hal konyol” dan menyebut hal itu sebagai dasar-dasar teroris Iran.

Anggota Parlemen Iran bernama Ahmad Hamzeh menawarkan hadiah besar itu atas nama rakyat Kerman, kota kelahiran dan tempat peristirahatan terakhir Soleimani, yang terbunuh dalam serangan pesawat tak berawak Amerika di negara tetangga Irak pada 3 Januari.

“Kami akan memberikan tiga juta dolar kepada siapa pun yang membunuh Trump,” Hamzeh dilansir aljazeera, Rabu, 22 Januari.

Hamzeh menawarkan hadiah itu untuk pembunuhan presiden AS saat berbicara di parlemen yang memiliki 290 kursi atau majelis.

Hamzeh juga menekankan agar Iran segera memproduksi senjata nuklir dan sistem pengiriman untuk melindungi dirinya sendiri.

“Jika kita memiliki senjata nuklir hari ini, kita akan dilindungi dari ancaman. Kita harus menempatkan produksi rudal jarak jauh yang mampu membawa hulu ledak yang tidak konvensional dalam agenda kita. Ini adalah hak alami kita,” katanya seperti dikutip.

Amerika Serikat dan sekutunya telah lama menuduh Iran mencari senjata nuklir. Teheran bersikeras bahwa mereka tidak pernah mencari senjata atom dan tidak akan pernah. Proyek nuklirnya adalah untuk penelitian dan energi.

Ketegangan antara AS dan Iran terus meningkat sejak Trump menarik Washington dari perjanjian nuklir 2015 dan menerapkan sanksi sepihak. Sebagai tanggapan, Iran secara bertahap telah membatalkan komitmennya untuk kesepakatan itu.

Kebuntuan meletus setelah pembunuhan Soleimani dan serangan rudal Iran di sebuah pangkalan di Irak yang menampung pasukan Amerika. Belasan tentara AS jadi korban, kendati pada awalnya Trump membantah adanya korban.

Di tengah krisis, Iran mengumumkan akan memulai kembali pekerjaan pengayaan uraniumnya. Pada hari Senin, para pejabat Iran juga mengancam akan menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi jika Inggris, Prancis, dan Jerman akan membawa pelanggaran kesepakatan nuklir ke Dewan Keamanan PBB dan menerapkan kembali sanksi Uni Eropa.
(fajar)

Sumber : aljazeera
Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah Umar

Comment

Loading...