Guru SD Cabuli Muridnya Hingga 19 Kali

0 Komentar

GURU BEJAT: Oknum guru bejat IGA KW,53,pelaku pelecehan seksual terhadap dua muridnya ditangkap oleh Polres Badung. Kasus pelecehan seksual ini membuat korban mengalami trauma berat. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

FAJAR.CO.ID,BALI– Oknum guru olahraga bejat alias guru predator yang berstatus PNS, pelaku pelecehan seksual terhadap dua siswanya tersebut akhirnya dirilis ke publik oleh Satuan Reserse Polres Badung, Rabu (22/1) di Mapolres Badung.

Pelaku ditetapkan sebagai tersangka atas pencabulan terhadap TF,13dan KDAP,11, yang tak lain dua siswinya di sekolah dasar.

Saat dirilis IGA KW,53, dirantai oleh pihak kepolisian karena perbuatan bejatnya melakukan pelecehan seksual terhadap dua siswinya yang semestinya dia didik dan lindungi.

Tersangka IGA KW ditangkap, Selasa (21/2) pukul 14.00 setelah mendapat laporan adanya oknum guru melakukan pelecehan seksual. “Awalnya orang tua korban melapor ke Polsek Mengwi, namun sesuai arahan Komando Polda Bali tentang prioritas perlindungan perempuan dan anak, serta perintah pak Kapolres Badung, kasus ini ditangani Polres Badung,” jelas AKP Laorens.

Mirisnya lagi, terungkap fakta tersangka IGA KW mencabuli dua siswanya tersebut hingga belasan kali di sebuah ruang kelas. “Tersangka telah melakukan pencabulan terhadap dua korban sebanyak 19 kali sejak tahun 2018. Korban TF disetubuhi sebanyak 9 kali dan KDAP disetubuhi sebanyak 10 kali,” terang AKP Laorens Rajamangapul Heseleo kepada awak media.

Tersangka yang sudah memiliki istri dan dua anak ini, bahkan memiliki satu cucu tersebut tega melecehkan muridnya hanya untuk mendapatkan kepuasan seksual.

Perilaku bejat oknum guru tersebut, menurut keterangan pihak kepolisian, dilakukan saat sekolah sepi dan rangkaian kegiatan ekstrakuliker Cricket sedang berlangsung. “Modusnya dilakukan di dalam kelas, dengan modus berlatih Cricket di sekolah tersebut dari pukul 16.00 hingga 18.00 sore. Ketika sekolah dalam keadaan sepi, siswa tersebut disuruh masuk kelas dan disetubuhi oleh tersangka. Jika menolak diancam tidak naik kelas,” terang AKP Laorens.

Ketika menggali lebih jauh tentang hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang dilakukan pihak polres Badung mengenai kondisi sekolah dan kemungkinan apakah tidak ada guru lain yang mengetahui kejadian tersebut, pihak kepolisian mengaku masih mengembangkan dan mendalami kasus tersebut.

“Kami masih melakukan pendalaman terhadap kemungkinan adanya korban lain. Kami juga sudah meminta keterangan dari pihak kepala sekolah mengenai kasus ini,” terangnya.

Sekolah yang lazimnya memiliki Satuan Pengaman (Satpam) sebagai salah satu sarana prasarana pendidikan, sesuai hasil olah TKP, polisi menyatakan sekolah tersebut tidak memiliki Satpam. Hal tersebut menjadi celah bagi tersangka melancarkan aksi bejatnya. “Sekolah tersebut tidak memiliki Satpam,” terang AKP Laorens.

Agar korban mau melayani nafsu bejat sang guru, tersangka mengimingi-imingi sejumlah uang. “Korban sempat diberikan uang Rp 50 ribu, tetapi ditolak oleh korban.  Menurut korban,  ia dijanjikan dibelikan sepatu,” jelasnya kembali.

TF yang sudah tamat dari SD tersebut, ternyata belum lepas dari jeratan nafsu sang guru. TF yang sudah duduk di bangku SMP bahkan pernah didatangi ke sekolahnya dan diajak untuk melakukan hal yang sama.

“Karena terus didatangi, korban trauma hingga ingin mengakhiri hidupnya. Saat jam istirahat di dalam kelas, korban sudah memegang silet cutter untuk mengiris tangannya. Untungnya, teman-temannya melihat dan langsung mencegah. Korban kemudian dibawa ke guru BK. Setelah itu korban bercerita yang dia alami,” beber Kasat Reserse asal Bumi Cendrawasih ini.

Tak hanya TF, KDAP yang masih menjadi siswi SD, tempat tersangka mengajar, juga mengalami hal yang sama hingga awal Januari 2020. “Korban KDAP masih mengalami pelecehan seksual pada 11 Januari. Dia disuruh masuk kelas, tetapi hanya dilihat kemaluannya dan tidak disetubuhi,” ungkap AKP Laorens.

Sementara itu, korban juga telah diambil visum di RSUD Mangusada untuk memperkuat keyakinan polisi bahwa korban memang mengalami kekerasan seksual. “Korban sudah kami ambil visum. Sekarang sudah dalam penanganan pihak P2TP2A Kab. Badung. Tentu korban mengalami trauma, terutama TF yang hendak bunuh diri itu,” tandas AKP Laorens.

Tersangka kini dikenakan Pasal 81 Jo Pasal 76D Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun.
“Hukuman dimaksud dapat ditambah 1/3 karena pelaku sebagai pendidik / tenaga pendidikan (Pasal 81 ayat (3)),” pungkas AKP Laorens.

(bx/ris/man/JPR)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...