Sulsel Terdampak Virus Korona

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR —  Penyebaran masif virus korona (corona), membawa dampak bagi Sulsel. Sejumlah travel menunda perjalanan.

SAAT ini, biro perjalanan wisata menghindari tujuan Tiongkok. Meski selama ini, paket wisata ke Negeri Tirai Bambu itu terbilang tinggi peminat di Sulsel.

Tiongkok bahkan masuk tiga besar negara paling diminati wisatawan Sulsel. Dengan munculnya fenomena virus korona, travel pun memilih langkah aman: menunda perjalanan wisata ke negeri pesaing dagang Amerika Serikat (AS) itu.

Dulang Wisata Travel, salah satunya. Akibat isu tersebut, pihaknya menunda pemberangkatan. Apalagi, organisasi kesehatan dunia, World Health Organizayion (WHO) telah mengeluarkan travel warning atau peringatan perjalanan.

Direktur Utama Dulang Wisata Travel, Andi Sophawati Baru, mengatakan pihaknya terpaksa membatalkan pemberangkatan wisatawan ke Tiongkok untuk periode April nanti.

Untungnya, kata dia, untuk bulan ini hingga Maret tidak ada pemberangkatan. Tetapi, untuk April ada dua jadwal pemberangkatan. Sehingga untuk sementara ditunda dahulu.

“Grup pertama itu 25 pax, yang grup kedua insentif 18 pax. Sebab, kabarnya penyakit ini sudah menyebar di beberapa kota besar di Tiongkok, seperti ke Beijing, Shanghai, bahkan sampai ke Jepang juga,” kata Sophawati, Rabu, 22 Januari.

Kondisi ini sangat disayangkannya, padahal minat warga Sulsel ke Tiongkok cukup besar. Di Asia, selain Korea Selatan dan Jepang, Tiongkok-lah negara yang banyak peminatnya di Makassar.

“Kita wait and see dulu. Jadi untuk sementara kita tunda. Takutnya klien nanti kena penyakit, kasihan,” ujarnya

Perlu Antisipasi

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Sulsel, Didi L Manaba mengatakan, baik pemerintah Tiongkok maupun Indonesia perlu mengantisipasi hal tersebut. Apalagi ini jenis penyakit menular.

“Adanya travel warning tentu membuat wisatawan berpikir. Kemudian travel juga harus bisa memberikan advice kepada calon tamunya. Jangan karena persoalan bisnis, kita jadi mengorbankan klien. Jadi tentu berpengaruh, tapi dampaknya belum begitu kelihatan,” jelasnya.

Khusus untuk Imlek, wisatawan yang ingin merayakannya di Tiongkok adalah orang Indonesia keturunan Tionghoa yang masih memiliki kerabat di sana. Alasan lainnya, wisatawan ingin melihat betapa semaraknya perayaan Imlek di Tiongkok secara langsung.

“Minat wisatawan Indonesia ke Tiongkok memang cukup tinggi. Karena banyak ikon-ikon yang menarik di sana. Mungkin ada sekitar 5 persen wisatawan kita ke Tiongkok,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihak travel harus mengindentifikasi di mana sumber penyebaran penyakit itu. Kalau turnya ada yang ke daerah terdampak, baiknya dihindari. “Kan tidak semua daerah di Tiongkok yang kena,” ucapnya.

Hingga saat ini belum ada edaran dari pemerintah untuk membatasi kunjungan ke China. “Kalau ada pasti akan kita teruskan ke klien. Sejauh ini belum ada,” katanya.

Pintu Masuk

Berdasarkan surat Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, sejak 5 Januari lalu memang telah diimbau kepada instansi terkait seperti Dinas Kesehatan provinsi/kota, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit serta rumah sakit rujukan.

Isinya, kesiapsiagaan dan antisipasi penyebaran penyakit pneumonia berat atau Virus Tiongkok alias virus korona, yang belum diketahui etiologinya.

Merujuk surat imbauan tersebut, Kepala KKP Kelas I Makassar, dr Darmawali Handoko, menerangkan, pihaknya juga telah melakukan upaya antisipasi. Salah satunya dengan meningkatkan kewaspadaan di pintu masuk.

“Ada thermal scanner memantau para penumpang dari luar negeri, walaupun tidak ada penerbangan yang langsung dari Tiongkok khususnya Wuhan,” jelas Darmawali.

Dalam instruksi yang diterimanya, pihaknya memang diminta untuk mengawasi dengan ketat apabila menemukan pelaku perjalanan dengan suhu tubuh di atas 38 derajat celcius. Apalagi, jika pelaku perjalanan tersebut juga disertai dengan indikasi lain seperti batuk, sesak, serta gejalan pneumonia berat lainnya.

Handoko menerangkan, sejauh ini memang belum ditemukan indikasi menyebarnya virus terkait dari pelaku perjalanan di Indonesia. Kendati demikian, pihaknya tak menurunkan kewaspadaannya sedikit pun.

Apalagi, merujuk laporan dari WHO yang diterimanya. Wabah tersebut makin merajalela. Tercatat dari 5-20 Januari, telah terkonfirmasi 280 orang terdampak untuk di Tiongkok saja.

Bagi yang sering melakukan perjalanan diimbau agar menjaga kebersihan, makan yang bergizi, berolahraga serta menghindari daerah yang terjangkit. “Kalau ada gejala panas lalu merasa sesak. Segera berobat,” sarannya.

Sebelumnya, General Manager PT Angkasa Pura I, Wahyudi saat dikonfirmasi mengenai antisipasi virus Tiongkok di Sulsel, mengatakan, secara manajemen belum ada antisipasi.

Sebab di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar belum ada penerbangan ke Tiongkok.

“Kita tidak ada penerbangan internasional ke Tiongkok. Akan tetapi kita sudah mendapat arahan dari KKP terkait penanganan hal tersebut,” katanya. (rin/abg-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Fadel

Comment

Loading...