Merawat Kontinuitas Simbolik Rakyat Luwu


Keberadaan 21 Januari 1268 merupakan sebuah konvergensi simbolik yang dihadirkan dari beberapa peristiwa yang kemudian dirumuskan dalam sebuah angka tanggal, bulan dan tahun, sebagai entitas berdirinya Kedatuan Luwu sebagai sebuah negara bangsa, nation state.

Tentunya perumusan untuk menentukan hari jadi Luwu ini bukanlah hal yang pasti. Ada beberapa teori yang dapat digunakan untuk itu, termasuk Teori Siklus Ibnu Khaldum. Namun itulah yang telah disepakati. Dan melalui kekuasaan birokrasi pemerintahan, hal ini kemudian disosialisasikan ke masyarakat dan terus dilaksanakan dalam sebuah perayaan seremonial.

Kendati demikian, seremonial 21 Januari, tentu tidaklah menjadi satu-satunya cara untuk merawat kontinuitas simbolik yang telah disepakati tersebut. Sebab jika itu hanya sebatas seremonial, maka kontinuitas simbolik akan menjadi hambar dan tidak bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, kecuali karena adanya keramaian yang diciptakan pemerintah. Terlebih lagi jika berharap semangat dari konvergensi simbolik itu masuk dan menjadi bagian dari diri masyarakat.

21 Januari, seharusnya dirumuskan dalam berbagai bentuk penguatan yang akan mendukung keberlangsungan simbol yang sudah disepakati. Sebab kontinuitas simbolik itu akan makin menguat jika telah merasuk dalam jiwa masyarakat pendukungnya. Salah satunya memproduksi dan mereproduksi semua pengetahuan tentang Kedatuan Luwu dalam berbagai perspektif. Dan untuk menanamkan sejak dini, maka pengetahuan itu harus diajarkan pada generasi muda, sejak duduk dibangku sekolah.

Sekali lagi, kontinuitas simbolik 21 Januari tidak hanya sebatas pidato dan acara seremonial para pejabat yang “dipaksakan”.  Terlebih jika hanya menjadi konsumsi politik menjelang pemilihan. Tetapi harus menjadi bagian dari diri masyarakat. Sehingga tanpa dukungan pemerintah pun, rakyat beramai-ramai merayakannya.

Makassar, 20 Januari 2020

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...