Sampah Impor Masuk ke Indonesia, Supriansa: Kapolri Harus Tangkap Pelakunya

Kapolri Jenderal Idham Azis bersama Anggota Komisi III DPR-RI, Supriansa.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Terkait kasus sampah impor dalam jumlah besar mencapai 1.015 kontainer, anggota Komisi III dari Partai Golkar Supriansa berharap ada tindakan hukum terkait perdagangan sampah yang diduga tak ber izin itu.

“Indonesia ini bukan tempat pembuangan sampah. Saya berharap kapolri segera turun tangan menangkap semua yang terlibat dalam perdagangan sampah. Apalagi jika itu tak memiliki legal hukum melakukan perdagangan. Negara harus mengambil tindakan agar tidak terjadi lagi di kemudian hari,” kata Supriansa, kepada FAJAR, Jumat (24/01/2020).

Komisi IV DPR RI bersama Kementerian Perdagangan dan Sucofindo selaku BUMN yang berfokus pada layanan jasa pemeriksaan dan pengawasan perdagangan ekspor impor, melakukan inspeksi mendadak ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (23/1/2020). Dalam sidak tersebut, Komisi IV DPR RI menemukan kontainer-kontainer berisi sampah dari luar negeri.

Sampah Impor Masuk ke Indonesia, dari Popok, Bekas Alat Infus, hingga Obat Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi mengatakan, setelah dimintai keterangan dari Sucofindo, sampah -sampah dari luar negeri tersebut diimpor untuk dijadikan bahan baku daur ulang. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata isinya sampah, importir berargumentasi itu bahan baku untuk recycle. Tetapi kalau menurut peraturan Menteri Perdagangan, bahan baku untuk recycle itu bahan baku bersih.

Menurut Supriansa, perdagangan sampah ini perlu diusut siapa pengusaha dalam negeri yang biasa memesan barang yang serupa. “Saya kira ini domain kepolisian, Imigrasi dan Bea cukai. Silahkan mencari pelakunya. Pasti ketahuan. Karena tidak mungkin barang terkirim sendiri tanpa ada pemesan dan pengirim,” katanya.

Dari informasi yang didapatnya, total keseluruhan sampah impor yang akan masuk melalui pelabuhan Tanjung Priok mencapai 1.015 kontainer. (*/aci)

KONTEN BERSPONSOR

Komentar