Penyidik Rosa dan Yadyn Ditarik, Upaya Menghalangi Penyidikan Harun Masiku?

Pengamat Hukum Tata Negara Universitas Andalas Padang, Feri Amsari. (Miftahul Hayat/Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA-- Operasi tangkap tangan (OTT) terkait dugaan suap pergantian antarwaktu (PAW) politikus PDIP Harun Masiku, ternyata berbuntut panjang. Buntut dari kasus ini mengharuskan satu orang penyidik bernama Rosa dan satu orang jaksa bernama Yadyn harus ditarik ke instansi asalnya.

Polemik adanya hal ini dinilai sebagai upaya untuk menghalang-halangi penyidikan kasus PAW yang menyeret-nyeret PDIP. Upaya menghalangi-halangi penyidikan kasus ini pun tidak hanya berada dari luar, tapi juga dari internal KPK.

“Saya pikir kalau penarikan (penyidik dan jaksa) itu ada kaitannya dengan proses penyidikan, maka harus dianggap tindakan itu adalah tindakan menghalang-halangi penyidikan,” kata Direktur Pusat Studi dan Konstitusi (Pusako) Feri Amsari kepada JawaPos.com (grup fajar.co.id), Senin (27/1).

Feri memandang, setiap orang yang menghalang-halangi proses penyidikan KPK dapat dijerat dengan Pasal 21 UU Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Menurutnya, ancaman tidak hanya terhadap orang-orang yang berada di luar KPK, tapi juga termasuk yang ada di internal KPK.

“Kan dia setiap orang, termasuk pimpinan,” tegas Feri.

Sementara itu, pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri pun seperti enggan merespon adanya polemik pada pengusutan kasus PAW Fraksi PDIP. Ali menyebut, dirinya mengklaim belum mengetahui adanya mutasi terkait penyidik dan jaksa yang menangani perkara PAW yang menjerat Komisioner KPU, Wahyu Setiawan.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah umar


Comment

Loading...