Ingin Hadiah, Bebaskan Buaya dari Lilitan Ban Bekas


FAJAR.CO.ID — Setelah beberapa waktu tak terlihat, buaya liar yang terjerat ban bekas atau populer disebut “Buaya Berkalung Ban” kembali menampakkan diri. Kali ini terlihat di sungai dekat Jembatan Palu II, Jalan I Gusti Ngurah Rai, Rabu (15/1/2020) Lalu.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Tengah menggelar sayembara untuk membebaskan buaya yang berkeliaran di aliran Sungai Palu hingga Teluk Palu dengan ban bekas sepeda motor yang meilit lehernya.

“Sayembara ini dimaksudkan untuk mengeluarkan ban bekas yang terlilit di leher buaya,” kata Kepala BKSDA Sulawesi Tengah Hasmuni Hasmar di Palu, Selasa, 28 Januari.

“Jika ada masyarakat berhasil melepaskan ban bekas di leher buaya itu, kami akan berikan imbalan,” kata Hasmar tanpa menyebut bentuk imbalan yang akan di berikan.

Bahkan pada Jumat (10/1/2020) sore lalu, buaya yang pernah “diburu” oleh Panji Sang Petualang itu sempat naik ke darat, tepatnya di gundukan pasir tepatnya di pendangkalan sungai yang mengering.

“Sudah beberapa hari ini muncul,” kata salah seorang warga yang bermukim tidak jauh dari bantaran sungai itu.

Menurut warga setempat, kemunculan buaya itu tidak selalu pasti. Kadang pagi hari, tetapi lebih banyak pada siang sampai sore hari.

“Buaya itu naik untuk berjemur,” sebutnya.

Setiap pemunculannya kata dia, antusias warga selalu tinggi. Tak jarang ada yang langsung live di media sosial, bahkan ada yang berusaha berselfie dengan latar belakang buaya tersebut.

Buaya liar itu pertama kali menampakkan diri dalam kondisi terjerat ban motor bekas pada September 2016. Kondisinya yang terjerat ban bekas itu mengundang banyak simpati dari perorangan maupun lembaga untuk menolongnya.

Tercatat Panji Sang petualang pernah secara khusus datang ke Palu bersama timnya pada awal Januari 2018 untuk melakukan evakuasi dan pertolongan guna melepas ban yang mencekik buaya itu. Namun upaya itu tidak berhasil karena sang buaya cukup lihai mengelak dari setiap jeratan perangkap.

Sebuah lembaga pecinta binatang juga pernah mencoba melakukan hal yang sama, namun sekali lagi gagal lantaran sang buaya tidak menampakkan diri. Saat itu, tim tersebut menunggui kemunculannya di sekitar Jembatan II Palu, namun sang buaya justeru berada di Jembatan IV. Sebaliknya, ditunggui di Jembatan IV, namun munculnya di Jembatan II.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah juga pernah mencoba melakukan usaha penyelamatan dengan memasang perangkap buaya. Tapi untuk kesekian kalinya, upaya itu gagal menangkap sang buaya.

Bahkan karena “lihai”nya sang buaya, BKSDA beberapa waktu lalu pernah mengumumkan akan memberi paresiasi khusus bagi siapa saja yang berhasil menangkap buaya itu dan melepaskan ban yang melilitnya.

Ban yang terus mengalung dilehernya makin mencekiknya. Bagaimana tidak, bobot buaya itu tampak makin besar, begitu pula dengan ukuran panjangnya yang diperkirakan sudah mencapai empat meter.

Adakah di antara kalian yang mau mencoba menyelematkan sang buaya dari belenggu ban bekas itu..? (aam)

KONTEN BERSPONSOR

Komentar