Pasiennya Buta, Dokter Elizabeth Harusnya Dihukum Maksimal dan Ditahan

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Kuasa hukum Agita Diola Fitri, Rudi berharap dr Elizabeth, pemilik klinik kecantikan Belle Beauty Care dituntut dan hukum maksimal oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan pihak Pengadilan Negeri Makassar.

Elizabeth adalah terdakwa malpraktek. Kasus pemilik klinik kecantikan Belle Beauty Care kini bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Makassar.

Tidak hanya itu, Rudi menegaskan semestinya PN Makassar harus berani mengambil sikap untuk melakukan penahanan kepada terdakwa. Dimana diketahui, sejak ditetapkan sebagai tersangka, tidak pernah dilakukan penahanan terhadap Elizabeth.

“Bahwa Elizabeth harus dituntut dan dijatuhi semaksimal mungkin dan harus dilakukan penahanan sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku, dan Pengadilan Negeri Makassar harus berani melakukan penahanan. Bayangkan kalau Elizabeth hanya dihukum kurungan 3 bulan atau denda misalnya. Lalu melakukan banding, kemudian kalah dan kembali melakukan kasasi. Jadi kapan kepastian hukumnya,” ungkap Rudi, Rabu, 29 Januari.

Dia mengatakan kasus ini sebenarnya sudah lama ‘menggantung’ di Polda Sulsel.

“Lama di Polda Sulsel karena tidak dapat dijadikan LP. Kemudian saya membuka baru di Bareskrim, lalu dilimpahkan kembali dengan penyidik yang sama dan dilakukan penyidikan. Tidak lama ditetapkan sebagai tersangka,” ungkapnya.

Ia menyayangkan lantaran saat itu tidak melakukan penahanan terhadap Elizabeth padalah sudah berstatus tersangka. Bahkan Elizabeth, kata Rudi masih melakukan aktivitas pelatihan dan promosi klinik kecantikan miliknya.

“Kami sebenarnya sudah ajukan surat ke Polda, waktu itu kami minta penyidik melakukan penahanan, tiba-tiba surat saya dibalas bahwa sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi. Kemudian saya langsung mendatangi Kejaksaan. Mempertanyakan kenapa tidak melakukan penahanan? Katanya perkara sudah masuk persidangan,” ungkap dia.

Dia melanjutkan bahwa kasus yang membuat kliennya buta permanen kini dalam proses pemeriksaan saksi-saksi di pengadilan.

Lebih jauh Rudi menyayangkan Elizabeth. Menurutnya Elizabeth adalah dokter umum namun melakukan ektivitas dokter kecantikan. Selain itu dia menduga banyak prosedur yang tidak dipenuhi.

“Ada namanya Infom konsen persetujuan tertulis dari pasien baik secara tertulis maupun lisan. Jika fatal wajib meminta peryataan tertulis namun ini tidak dilakukan,” katanya. (taq/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...