Merawat Budaya Lewat Tenun


Bunyi tok…tok… dari bilah kayu bertemu benang. Ritme konstan dari alat tenun tradisional masyarakat Toraja itu, sesekali diselingi suara bambu gulungan benang. Enam penenun fokus dengan bentangan benang di depannya. Perempuan lainnya sibuk memintal benang.

Aktivitas menenun dengan alat tradisional seperti ini dapat dijumpai di Desa Bebo’, Kecamatan Sangalla Utara, Tana Toraja. Pengunjung dapat belajar langsung teknik menenun dari warga setempat.

Agustina Parinding memperhatikan ibu-ibu yang sedang memintal benang. Beberapa menit kemudian, berpindah ke penenun dan membantu memasukkan benang horizontal.

Dia yang mengajari ibu-ibu di Desa Bebo’ menenun. Proses menenun dengan alat tradisional, urainya, dimulai dengan tahap marenden atau memintal benang. Empat utas benang dijadikan satu. “Jadi lebih tebal,” katanya.

Waktu untuk menyelesaikan satu lembar kain tenun bervariasi. Antara 4 sampai 14 hari. Bergantung motif dan ukurannya. “Motif paruki bisa sampai dua minggu,” ucap Agustina seraya merapikan alur benang.

Kepala lembang yang juga pemerhati tenun, Ibrahim Ada’ mengemukakan, motif pada kain tenun menjadi simbol status sosial masyarakat Toraja. Tak sembarang orang boleh memakainya.

Penggunaan warna kain juga mesti menyesuaikan pesta adat yang berlangsung. Kain warna cerah digunakan saat upacara adat syukuran seperti pernikahan atau naik rumah baru. Sementara kain warna hitam untuk upacara kematian Rambu Solo.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...