Dugaan Pembobolan Bank, The Johnny Cs di Tangan Jaksa

Rabu, 5 Februari 2020 17:52

ILUSTRASI (INT)

Reporter: Andi Syaeful Editor: Amrullah B Gani – Ridwan Marzuki

FAJAR.CO.ID — Kasus dugaan kredit fiktif di Bank Permata sudah di tangan Kejaksaan Agung. Hanya saja, proses penanganannya masih tertutup.

Perkembangan kasus pembobolan serta kredit fiktif di PT Bank Permata seakan terhenti. Padahal, kepolisian sudah menetapkan tiga tersangka dalam kasus yang menyebabkan kerugian dana nasabah yang mencapai Rp1 triliun.

Tiga tersangka itu adalah Direktur Utama PT Megah Jaya Prima Lestari (PT MJPL), Sumarto Gosal, Silvia selaku Direktur dan The Johnny selaku Komisaris.

Kepada FAJAR, Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Pol Argo Yuwono mengatakan, pihaknya sudah menuntaskan proses penyidikan kasus tersebut. Berkasnya sudah dilimpahkan ke kejaksaan untuk proses selanjutnya.

“Sudah ada di Kejaksaan (berkasnya). Soal temuan lain, nanti kalau ada datanya, ya,” beber jenderal satu bintang itu, kemarin.

Ada pun pasal yang disangkakan adalah 266 KUHP tentang keterangan palsu, 387 KUHP tentang penipuan/ perbuatan curang, Pasal 3 dan Pasal 5 Undang-Undang 8/ 2010 tentang tindak pidana pencucian uang, Jo Pasal 55 KUHP, dan Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan dokumen.

Terpisah, Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejagung, Hari Setiyono belum bisa berkomentar banyak terkait kasus itu. Ia belum mengetahui sejauh mana proses kasus itu pasca dilimpahkan dari kepolisian.

“Jadi sudah tahap II, ya? Sudah dilimpahkan ke kejaksaan dari bareskrim, ya? Saya belum cek (tersangka) ditahan atau tidak. Berarti lanjut di kejaksaan, berarti dikembangkan di unit tindak pidana umum lain,” katanya saat ditemui FAJAR di Kejaksaan Agug.

Asal tahu saja, The Johnny cs melakukan kejahatan dengan cara mengajukan kredit pembiayaan tujuh kontrak proyek PT Pertamina ke Bank Permata. Selanjutnya dilakukan pencairan kredit pada Desember 2013 hingga Mei 2015 sebanyak 61 kali. Totalnya, Rp892.062.287.312.

Pembayaran kewajiban macet pada 2017, sehingga Bank Permata curiga dan pada akhir 2017 Bank Permata meminta konfirmasi kepada PT Pertamina. Hasilnya, PT Pertamina menyebut ketujuh kontrak proyek PT Pertamina yang diajukan PT MJPL adalah palsu (fiktif).

Ada dugaan modus operandi yang dilakukan para tersangka juga terjadi di Bank lain di luar Bank Permata. Bahkan, diduga para tersangka bekerja sama dengan pejabat Bank tersebut. Banyak pihak berharap penyidik bisa mengungkap secara tuntas kejahatan ini agar tidak menjadi modus (tren) yang merugikan dunia perbankan. (*)

Komentar