Kaya Berpengalaman

Rabu, 5 Februari 2020 17:27

Suwardi Thahir

Nakhoda Baru Pare Pos (2-selesai)

Oleh: Suwardi Thahir(Ketua PWI Parepare Pertama)

Ketika Harian FAJAR berpindah ke Jl Racing Center 101 (sekarang Kampus Unifa), Mappi naik pangkat menjadi Redaktur Ekonomi. Jabatan redaktur melekat padanya hingga Harian FAJAR pindah ke Graha Pena, Jl Urip Sumoharjo No 20 Makassar.

Saat bagian iklan membutuhkan tenaga segar dan berlatar belakang wartawan, dia menjadi pilihan utama karena dianggap banyak mengenal dan berinteraksi dengan pengusaha maupun pemerintahan dan politikus. Mappiar lalu naik pangkat menjadi Manajer Pemasaran Harian FAJAR di samping menjabat sebagai Direktur Makassar Promosi (Mapro), event organizer yang bernaung di bawah bendera FAJAR Group.

Beberapa tahun kemudian, di tempat itu pula Mappi diangkat menjadi Direktur Utama Harian Ekonomi Ujungpandang Ekspres, yang sedang menurun. Upeks mengalami persoalan serius dalam pengembangan karena kepemimpinan yang tidak sinkron dengan segmentasi, lalu dipindahtugaskan di tempat lain.

MAPPI lantas mengisi kekosongan itu. Di koran umum berbasis ekonomi, ia mencetuskan banyak ide, menggarap berbai event, termasuk Diskusi Ekonomi “Meja Bundar” yang ditiru media lain menjadi banyak versi.

Kariernya semakin meningkat ketika diangkat menjdi Dirut PT FAJAR Utama Intermedia, perusahaan dengan memiliki lima cabang percetakan, yang bertugas mencetak semua media yang berada di bawah bendera PT Media FAJAR. Cabang-cabang itu ada di Kendari, Ambon, Kupang Palopo dan Polman.

Prestasi dan dedikasinya terhadap FAJAR Group (termasuk mengurus ijin tambang dan agribisnis) beberapa tahun terakhir serta pengalaman organisasi sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia Cabang Sulsel, menyebabkan pemegang saham “jatuh cinta”, memercayai dan menugasinya untuk “turun gunung” menangani Pare Pos.

Manajemen beruntung mendapatkan direksi baru melawan perubahan sistem komunikasi dan perilaku konsumsi informasi masyarakat. Era disrupsi memaksa semua media bekerja keras mempertahankan pembaca. Pare Pos butuh tenaga ekstra dengan kepemimpinan yang tepat untuk melipir keluar dari keterpurukan.

Selain itu, sumber informasi yang banyak dengan pilihan berita “melimpah” menyebabkan beban di pundak Mappiar semakin berat. Media mainstream harus bergerak cepat, inklusi dan memberi pemahaman bahwa mereka menyajikan berita terpilih, terbaik, dihasilkan oleh wartawan kompeten yang patuh pada kode etik, bekerja profesional dengan pijakan UU No 40/1999.

Beberapa hari ke depan, Mappiar akan ke Parepare, bekerja, berinovasi, melayani ekosistemnya dengan menakhodai Pare Pos untuk mendukung kemajuan Ajattapareng.

Kolega saya ini telah memilih jalan berundak dengan pijakan yang ‘goyah’ karena era komunikasi yang berubah. Secara pribadi saya dan teman-teman pengurus PWI Sulsel harus mendukung dan memotivasinya karena perjuangnnya masih panjang dan berat.

Secara internal, dia harus mengubah gaya kepemimpinannya yang sesuai situasi. Menjadi pemimpin transformasional adalah pilihan terbaik agar bisa mengubah sikap, motivasi dan kinerja karyawan supaya adaptif terhadap perubahan. Tanpa melakukan hal ini, Mappiar hanya akan menjadi nakhoda kapal kosong yang rapuh. Selamat bertugas cappo! (*)

[Tulisan ini sudah Dimuat di Pare Pos, 5 Januari 2020]

Bagikan berita ini:
10
6
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar