Kiai Migas

Kamis, 6 Februari 2020 08:29

Gus Kikin bersama DI's Way dan para tamu

Oleh Dahlan Iskan

FAJAR.CO.ID– Dari Lombok saya langsung ke Tebu Ireng, Jombang. Kemarin. Itu sudah hari ketiga sejak KH Salahuddin Wahid meninggal dunia di Jakarta.

Di gerbang pondok pesantren itu saya disambut Gus Irfan. Beliau adalah salah satu dari 12 cucu KH Hasyim Asy’ari yang masih ada. KH Hasyim Asy’ari adalah pendiri Tebu Ireng. Beliaulah ayah Menteri Agama KH Wahid Hasyim. Beliaulah kakek Presiden Abdurrahman Wahid.

“Mungkin karena sudah empat bulan tidak ketemu sehingga DI’s Way menulis cucu Kiai Hasyim Asy’ari sudah habis. Saya tertawa,” ujar Gus Irfan.

Saya tahu DI’s Way telah membunuh 12 cucu yang masih ada itu –tanpa menguburkannya.

Empat bulan yang lalu –dan bulan-bulan sebelumnya– saya memang runtang-runtung dengan Gus Irfan. Termasuk bermobil bersama jalan darat dari Jakarta ke Surabaya.

Saya pun, dulu, sering bertemu ayah beliau: KH Yusuf Hasyim.

Gus Irfan tidak pernah mau tampil menjadi kiai utama Tebu Ireng.

KH Yusuf Hasyim, ayah Gus Irfan, memang pernah menjadi kiai utama di pondok itu. Tapi anaknya tidak harus otomatis menjadi pengganti sang ayah.

Demikian juga ketika Gus Sholah –nama panggilan almarhum KH Ir Salahuddin Wahid– meninggal. Bukan anak Gus Sholah, Ipang Wahid, yang menjadi penggantinya.

Komentar