Kiai Migas

Kamis, 6 Februari 2020 08:29

Gus Kikin bersama DI's Way dan para tamu

“Harus lebih banyak doa,” jawab dokter seperti ditirukannyi.

Dari jawaban itu Ny Farida tahu bahwa Gus Sholah sudah sulit diselamatkan. Maka ditanyakan lagi kemungkinan berikutnya.

“Secara teknis-medis kira-kira bisa bertahan berapa lama?” tanyanyi seperti ditirukannyi.

“Paling lama sampai jam 12 malam,” jawab dokter, seperti yang ditirukan beliau.

Sejak itu Ny Farida bersama tiga anaknyi terus di sebelah Gus Sholah. Sang ibu terus memegang telapak tangan kanan Gus Sholah. “Dia yang memegang telapak tangan kiri,” ujar Ny Farida sambil menatap putrinyi, Acha, yang berdiri di belakang ibunyi.

Di saat bersamaan, Ipang terus menempelkan mulutnya di telinga kanan sang ayah. Adik Ipang, Billy, menempelkan mulut di telinga kiri.

Mereka terus membisikkan kalimat-kalimat pengingat Tuhan ke telinga Gus Sholah. Tidak pernah berhenti. Sampai pun jam 12 malam, misalnya –saat diperkirakan Gus Sholah meninggal dunia.

Tapi pada jam 8.50 malam itu pintu ruangan terbuka. Ada sapa “Assalamualaikum” dari orang yang masuk saat itu. Ternyata itu Prof Yoga, salah satu dokter beliau di RS Harapan Kita.

Melihat dokter masuk, mereka tetap memegangi dan membisiki Gus Sholah dengan kalimat-kalimat pujian pada Tuhan.

“Sebenarnya Gus Sholah ini sudah wafat,” ujar sang dokter seperti ditirukan Ny. Farida.

Nyai Farida saat menemui DI’s Way. Mereka pun melepaskan Gus Sholah. Selama itu mereka sama sekali tidak mengira Gus Sholat sudah wafat.

Mereka menyangka akan mengetahui saat-saat terakhir Gus Sholah meninggal dunia. Bukankah biasanya detik terakhir itu ditandai dengan gerakan tertentu? Dan orang yang memeganginya akan bisa merasakan gerakan itu?

Komentar


VIDEO TERKINI