Kiai Migas

Kamis, 6 Februari 2020 08:29

Gus Kikin bersama DI's Way dan para tamu

“Awalnya di pondok Sunan Ampel, lalu ke pondok Seblak,” ujar Gus Kikin. “Setelah itu lebih banyak ngaji ke ayah,” tambahnya.

Pondok Sunan Ampel adalah pondok kecil di dalam kota Jombang. Sedang lokasi pondok Seblak hanya selemparan batu dari Tebu Ireng.

Ayah Gus Kikin sendiri seorang kiai. Ibunya adalah sepupu Gus Dur. Kakek dari ayahnya juga kiai besar, KH Maksum. Yang karya beliau menjadi buku pegangan di pesantren: Kitab Amshilatut Yashrifiyah.

Itulah kitab etimologi yang sampai sekarang masih diajarkan di Pondok Tebu Ireng.

Kini Gus Kikin sendiri yang mengajarkan kitab kuning itu kepada para santrinya.

Gus Kikin juga masih mengajarkan kitab kuning populer lainnya: Durusul Falaqiyah.

Dari pesantren itu Gus Kikin masuk akademi yang tidak akan Anda sangka: Akademi Pelayaran di Jakarta. Sampai selesai. Sampai memiliki kemampuan mengemudikan kapal.

Setamat akademi itu Gus Kikin berkarir di BUMN: menjadi pegawai Djakarta Lloyd. Dengan karir yang moncer pula: umur 30 tahun sudah menjadi kepala cabang di Cilegon.

Itulah masa jaya Djakarta Lloyd. Dengan grup band terkemukanya: D’Lloyd.

Setelah lebih 10 tahun di Djakarta Lloyd –dan pindah-pindah ke beberapa cabang– Gus Kikin pun keluar. “Saya melihat ada yang tidak sehat di situ. Suatu saat akan bahaya,” ujar beliau.

Komentar


VIDEO TERKINI