Pemkab Wajo Godok Penyelamatan Danau Tempe

Bupati Wajo, Amran Mahmud, memantau perairan Danau Tempe di wilayah Kabupaten Wajo, tepatnya di Desa Pallimae Kecamatan Sabbangparu beberapa waktu lalu. (FOTO: IMAN SETIAWAN P/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, SENGKANG — Danau Tempe di wilayah Kabupaten Wajo sudah “sekarat”. Pemerintah kabupaten (Pemkab) Wajo kini menggodok langkah penyelamatan.

Terbukti, Bupati Wajo Amran Mahmud sudah mendatangi Kantor Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Jeneberang Saddang di Kota Makassar, Senin, 3 Februari kemarin.

Rencana penyelematan itu, dibenarkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLHD) Wajo Andi Baso Iqbal. Pihak turut hadir dalam pertemuan yang diterima langsung Kepala BPDASHL Jeneberang Saddang, Entan Sofyan.

“Hasilnya adalah komitmen sinergitas antara pemerintah daerah dengan balai. Selain langkah penyelamatan, Danau Tempe ingin kita jadikan icon Wajo,” ujarnya, Kamis, 6 Februari.

Hanya saja, ia belum bisa membeberkan langkah penyelamatan akan ditempuh dalam sinergitas tersebut. Sebab masih digodok.

“Penyelamatannya dari segi pendangkalan. Apalagi Danau Tempe masuk dalam 15 danau prioritas diseluruh Indonesia. Jadi konsen pemerintah disitu,” jelasnya.

Berdasarkan informasi dihimpun FAJAR, terdapat sebanyak 19 jenis ikan. Termasuk ikan sapu-sapu atau nelayan lokal sebut ikan tokek.

Namun berjalannya waktu, sejumlah spesies ikan di Danau Tempe mulai menghilang, akibatnya pesatnya populasi ikan sapu-sapu tersebut.

“Termasuk penyelamatan ekosistem dibawah perairan Danau Tempe juga prioritas,” tuturnya.

Para nelayan sungai di Danau Tempe merasa risau dengan populasi ikan ini karena semakin meningkat.

Warga Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo, Abdul Asiz, mengaku ikan jenis merusak ekosistem sungai hingga membuat hasil tangkapan nelayan pun terganggu.

“Diperkirakan sudah ribuan perkembangan ikan ini, karena setiap nelayan menjatuhkan jaring, ikan tekok selalu masuk ke jaring dan merusak,” katanya.

Menurutnya, ikan sapu-sapu menjadi hama bagi para nelayan saat menangkap. Karena hanya merusak alat tangkap nelayan.

“Kemudian tidak ada harganya, jaring kita cuma rusak,” keluhnya. (man)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam

Comment

Loading...