Gagas Rumah Sakit Khusus Virus Menular

Sabtu, 8 Februari 2020 15:12

ILUSTRASI: Petugas Sudin Kesehatan Jakarta Barat memeriksa suhu badan para penghuni di apartemen Mediterania Residents, Kamis (6/2/2020). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID– Karantina terhadap 238 warga negara Indonesia (WNI) yang baru pulang dari Wuhan menjadi acuan dasar untuk pelayanan kasus-kasus serupa di masa depan. Termasuk rencana pembangunan rumah sakit (RS) khusus di salah satu pulau yang dipilih.

Deputi V Kantor Staf Presiden Jaleswari Pramodhawardani menuturkan, pemerintah tidak gegabah untuk langsung memutuskan pembangunan RS khusus hanya karena kasus 2019-nCoV. Pemilihan lokasi dan penyiapan fasilitas perlu direncanakan dengan matang.

Terlebih, sejauh ini pelayanan terhadap WNI yang dikarantina di Natuna berjalan dengan baik. Observasi di Natuna semata-mata bertujuan untuk mematuhi protokol kesehatan dari WHO terkait 2019-nCoV. Yakni mengobservasi siapa pun yang datang dari Wuhan, wilayah asal virus tersebut, setidaknya selama 14 hari.

Dani, sapaan karib Jaleswari Pramodhawardani, mengungkapkan, seluruh kebutuhan dasar di lokasi observasi terjamin. ”Ada 112 orang yang membantu mengawani dan memberikan layanan-layanan,” katanya dalam keterangan pers di Bina Graha, Jakarta, kemarin (7/2). Mulai layanan kesehatan, psikolog, dan lainnya.

Keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan mereka selama masa observasi juga diperhatikan. Salah satunya kebutuhan makanan. ”Setiap hari mereka mendapat (senilai) Rp 100 ribu per makan. Jadi, kalau tiga kali makan itu Rp 300 ribu,” lanjutnya.

Kementerian Kesehatan juga sudah menyiapkan langkah pascaobservasi. ”Kawan-kawan yang diobservasi itu nanti akan (tetap) dipantau kesehatannya,” ucap dia. Termasuk di dalamnya memperkuat rumah-rumah sakit di daerah asal para WNI tersebut.

Komentar