Rika Murni Bersimbah Darah Disaksikan Putrinya yang Berusia 5 Tahun

Minggu, 9 Februari 2020 18:26

REPRO. Rika Murni semasa hidup. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID, SURABAYA– Warga Jalan Tambak Wedi Langgar Gang Manyar, Kenjeran, gempar pada Jumat malam (7/2). Mereka dikagetkan kematian Rika Murni, warga yang mengontrak di rumah nomor 21-A. Perempuan berusia 31 tahun itu ditemukan tewas di rumahnya dalam kondisi mengenaskan Tubuh ibu dua anak tersebut bersimbah darah dengan luka tusuk di perut dan dada kiri.

Polisi menengarai Rika tewas akibat dibunuh. Namun, banyaknya keganjilan dalam pembunuhan tersebut membuat petugas sulit melakukan penyelidikan.

Suami korban, Laksana Widi Putra, menerangkan bahwa dirinya menemukan istrinya dalam keadaan tidak bernyawa pukul 18.25. Widi ketika itu baru pulang dari tempat kerjanya di Margomulyo. Malam itu hujan deras mengguyur Tambak Wedi dan sekitarnya.

Widi mengatakan, saat tiba di rumah yang dikontrak sejak sekitar empat tahun lalu itu, pintunya tertutup, tetapi tidak terkunci. Kemudian, lampu teras dan ruang tengah tidak menyala. Yang menyala hanya lampu dapur.

Dia menyatakan, kondisi tersebut jarang terjadi saat pulang kerja. Namun, ketika itu Widi tidak curiga. Pria berusia 32 tahun tersebut mengira istri dan kedua anaknya berinisial KR, 5, dan GWP, 3 bulan, sedang beristirahat.

Pintu tersebut lantas dibuka. Panggilan papa yang diberikan putri pertamanya berinisial KR merupakan suara pertama yang didengar. Namun, kali ini nada panggilan yang diberikan KR berbeda. Bocah berusia 5 tahun tersebut tampak panik, lantas menangis.

’’Pas buka pintu, KR langsung panggil saya. Papa, mama kenapa papa,’’ ujar Widi yang menirukan ucapan KR saat ditemui di rumah orang tuanya di Jalan Mrutu Kalianyar, Semampir, kemarin (8/2).

Merasa ada yang tidak beres, Widi bergegas menyalakan lampu rumahnya. Dia kaget saat melihat sang istri tergeletak dalam kondisi mengenaskan di lantai ruang tengah. Yaitu, tubuh bersimbah darah dengan luka tusuk di bagian perut.

’’Rika meninggal di depan anak-anak. KR terlihat sangat shock. Saya pun lantas berteriak meminta tolong dan menanyakan penyebab kematian korban ke para tetangga kos,’’ ucapnya.

Namun, pertanyaannya tidak terjawab. Tidak ada yang mengetahui kondisi Rika dan kejadian beberapa jam sebelumnya. Warga baru mengetahui kondisi Rika yang sudah meninggal dengan kondisi tragis dari Widi.

Misalnya, yang dikatakan Muhammad Yasin. Dia menyatakan, kamar kosnya sangat dekat dengan tempat tinggal korban. Jadi, ketika ada suara teriakan atau tangisan, dia pasti mendengarnya. Sebab, ketika itu seharian dia ada di rumah dan tidak tidur.

’’Anehnya, tidak ada sedikit pun teriakan minta tolong, kesakitan karena dilukai, atau suara tangis dari anak korban. Seperti tidak terjadi sesuatu apa pun,’’ kata pria berusia 38 tahun tersebut.

Hanya, dia merasa ada yang berbeda dari sikap korban pada hari itu. Yakni, korban menutup warungnya lebih cepat. Padahal, warungnya biasanya sampai menjelang magrib. Namun, ketika itu warung tutup sebelum asar.

Kemudian, pintu rumah tertutup rapat serta lampunya padam. Dia pun mengira korban beserta kedua anaknya berada di luar. ’’Korban buka warung seperti jualan pulsa token, rokok, dan berbagai jenis camilan. Setiap hari pembeli selalu datang. Karena Jumat sore hujan mulai turun, para tetangga memutuskan masuk ke rumah masing-masing,’’ ungkapnya.

Yasin juga mengatakan tidak ada yang janggal dengan pergerakan orang tidak dikenal di sekitar mereka. Dalam sebulan terakhir, dia tidak pernah melihat orang yang mencurigakan. Semua yang melintas dan datang ke rumah korban merupakan warga sekitar. Tidak terlihat adanya orang asing.

Plh Kapolsek Kenjeran Kompol Ariyanto Agus mengatakan, pembunuhan itu terjadi saat sore. Pukul 15.30. Sebab, tubuh korban saat ditemukan sudah dingin. Layaknya meninggal beberapa jam sebelumnya.

Pemeriksaan pun dilangsungkan. Agus membenarkan adanya beberapa keganjilan yang menyelimuti kematian Rika. Dari hasil pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP), pihaknya hanya berhasil mengamankan pakaian yang dikenakan korban.

Motif pembunuhan karena perampokan atau pencurian dengan kekerasan (curas) pun jadi samar. Sebab, kalung yang melingkar di leher korban tidak hilang. Begitu juga dengan harta benda lainnya.

Ketika ditanya pembunuhan dilakukan orang dekat, Agus mengatakan bahwa kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. Meski begitu, pihaknya belum bisa memastikannya. Sebab, penyelidikan masih berjalan.

’’Saksi utama, yaitu KR, yang berusia 5 tahun. Sebab, dia yang tahu semuanya. Tapi, kondisinya sampai sekarang masih shock dan belum bisa diperiksa,’’ ungkapnya. Meski begitu, lanjut Agus, penyelidikan terus berjalan. Salah satunya memperbanyak keterangan saksi.

KR Belum Tahu Ibunya Telah Tiada

Laksana Widi Putra tidak pernah menyangka istrinya, Rika Murni, begitu cepat meninggalkannya bersama dua putrinya. Padahal, sebelum peristiwa berdarah itu terjadi, dia masih berkomunikasi dengan sang istri.

Jumat siang (7/2) Rika menghubungi Widi melalui voice call WhatsApp. Perbincangan pun terjadi. Widi menceritakan, Rika menanyakan aktivitas yang sedang dilakukan. Ketika itu dia beristirahat.

Kemudian, Widi pun melontarkan pertanyaan serupa kepada sang istri. Rika menjawab sedang di rumah bersama kedua putri kecilnya. Yakni, KR, 5, dan GWP, 3 bulan. ’’Lalu, istri saya juga bercerita bahwa pemilik kontrakan lagi benerin mesin pompa air. Ya, hanya obrolan biasa,’’ kata Widi di rumah orang tuanya di Jalan Mrutu Kalianyar kemarin (8/2).

Karena jam istirahatnya telah habis, Widi pun mengakhiri komunikasinya dan melanjutkan pekerjaannya Agar tidak mengganggu pekerjaannya, Widi mengaktifkan opsi silent di handphone-nya.

Akibatnya, permintaan video call sang istri pukul 14.30 tidak diketahui. Widi baru mengetahui permintaan istrinya itu saat jam pulang kerja. Widi tidak sempat menghubungi istrinya dan memutuskan langsung pulang.

’’Sampai di rumah baru saya mengetahui bahwa Rika telah tiada. Dia meninggal dengan luka tusuk di bagian perut,’’ ungkapnya.

Widi tidak pernah menyangka peristiwa tersebut bisa menimpa keluarganya. Sebab, selama ini pernikahannya berlangsung harmonis. Tidak pernah ada orang lain yang mengganggu keluarganya.

Dia juga tidak pernah mendapatkan pesan gelap atau ancaman untuk keluarganya. Sebab, Widi menegaskan tidak mempunyai masalah dengan orang lain. ’’Sehingga sampai saat ini saya belum mencurigai adanya keterlibatan orang yang dikenal dalam kasus ini,’’ ungkapnya.

Meski berat, dia telah mengikhlaskan kepergian Rika. Pihaknya telah menyerahkan kasus tersebut ke kepolisian. Saat ini Widi memikirkan nasib kedua anaknya. Terutama KR, putri pertamanya. Sejak kejadian itu, KR menjadi lebih pendiam. Belum bisa diajak bicara, bahkan sekadar menanyakan kondisi ibunya yang tidak lagi mendampinginya.

’’Anak saya masih shock banget. Wajar. Sebab, dia satu-satunya yang mungkin menyaksikan peristiwa itu,’’ paparnya.

Bahkan, dari informasi yang diberikan psikiater yang diterjunkan Pemkot Surabaya, KR belum mengetahui bahwa Rika telah meninggal. Dia hanya tahu bahwa Rika dirawat di rumah sakit.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Surabaya Chandra Oratmangun mengatakan bahwa penyembuhan trauma healing terhadap KR sudah berjalan. Agar berjalan cepat, pihaknya telah menugaskan satu psikiater untuk terus mendampingi korban.

Termasuk saat nanti korban dimintai keterangan oleh polisi. Pemkot juga mengirimkan bantuan logistik seperti susu dan makanan bayi. Begitu juga mainan dan makanan untuk anggota keluarga. ’’Korban akan terus kami dampingi sampai sembuh. Sampai korban kembali ceria lagi,’’ kata Chandra kemarin.

Perhatian juga disampaikan langsung oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Dia mengunjungi KR dan adiknya di Mrutu Kalianyar. Di lokasi itu, Risma berbincang dengan nenek KR dan menguatkan mentalnya.

Keganjilan Seputar Kematian Rika Murni

  1. Saat peristiwa pembunuhan berlangsung, tidak ada satu tetangga pun yang mendengar teriakan minta tolong atau kesakitan dari korban akibat penganiayaan yang dilakukan pelaku. Padahal, tembok rumah kontrakan mereka berdampingan.
  2. Tidak ada satu pun harta benda korban yang hilang. Termasuk kalung yang melingkar pada leher korban.
  3. Putri korban berinisial KR, 5, tidak menangis dan hanya terdiam melihat korban meninggal. Diduga, KR menyaksikan peristiwa pembunuhan tersebut.
  4. Tidak ada kerusakan pada pintu rumah korban. Diduga, pintu tidak dikunci dan pelaku dengan mudah masuk tanpa harus mendobraknya. (jpc/fajar)

Komentar


VIDEO TERKINI