Dukungan Hastag

Senin, 10 Februari 2020 08:05

Ingat: ini lebih mirip flu daripada Jiwasraya.

Yang jelas kita bukan Wuhan. Saya sendiri menyukai Kota Wuhan. Apalagi di ‘simpang tiga’ pertemuan antara sungai Jialing dengan sungai Chang Jiang (Yangtze).

Ketika hubungan diplomatik antara Indonesia dan Tiongkok masih putus saya sudah mendatangkan grup akrobat dari Wuhan. Sampai panitianya diinterogasi oleh Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) di Surabaya.

Tapi kali ini saya ikut marah dengan apa yang terjadi di Wuhan. Seraya ikut bangga pada dokter Li Wenliang. Yang meninggal dunia Jumat lalu.

Kalau saja suara dokter itu didengar tidak akan sampai menjadi fatal seperti ini. Khususnya di Wuhan.

Dokter Li memang tergabung dalam anggota grup WeChat. Anggota grup WeChat itu terbatas para dokter di rumah sakit Palang Merah Wuhan.

Tanggal 30 Desember 2019 lalu dokter Li memposting informasi di grup itu. Tujuannya: agar rekan-rekan sesama dokter menaruh perhatian akan adanya virus yang sangat bahaya itu.

Rupanya ada yang meng-capture postingan dokter Li. Lalu hasil capture itu beredar di online. Menyebar luas. Heboh.

Keesokan harinya kepala rumah sakit memanggilnya. Dokter Li dianggap menjadi sumber keresahan umum.

Dua hari kemudian dokter Li dipanggil polisi. Diinterogasi. Lalu diberi surat peringatan.

Dokter Li sendiri sebenarnya sudah mencabut postingannya itu. Tapi capture-nya sudah beredar luas. Dipanggil polisi adalah menakutkan.

Bagikan berita ini:
7
1
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar