Dukungan Hastag

Senin, 10 Februari 2020 08:05

Dokter-dokter lain pun menjadi ragu-ragu untuk bekerja. Apalagi mengambil tindakan. Sebagian marah karena merasa solider pada sejawat.

Suasana menakutkan itulah yang membuat penanganan awal wabah ini tidak maksimal. Pemda setempat pun merasa sudah cukup ketika sudah menutup pasar ikan yang bercampur pasar binatang liar itu.

Bunyi postingan dokter Li memang menakutkan –untuk ukuran saat itu. Isinya: “Ditemukan tujuh orang terkena virus SARS dari pasar induk Huanan,” tulis dokter Li.

Mungkin kata SARS itulah yang menakutkan. Masak ada SARS lagi. Dan dokter Li pun dianggap menyebarkan ketakutan umum.

“Dari mana Anda tahu kalau itu virus SARS,” tegur kepala rumah sakit tersebut.

Dari pemakaian istilah SARS itulah bisa saja dokter Li dianggap ceroboh. Tapi bisa juga dianggap penuh kewaspadaan.

Yang ditemukan di tujuh orang tersebut sama dengan tanda-tanda wabah SARS 18 tahun lalu. Ketika dokter Li baru berumur 16 tahun.

Padahal –mungkin beginilah jalan pikiran kepala rumah sakit– wabah SARS sudah dinyatakan padam. Kewaspadaan dokter Li justru mendapat respons represif dari atasan. Lebih represif lagi oleh polisi.

Memang akhirnya dipastikan itu bukan SARS. Tapi sungguh setara dengan SARS. Kalau pun hampir sama dengan flu tapi lebih berat dari flu.

Dokter Li baru berumur 34 tahun saat meninggal. Anaknya satu, laki-laki, berumur lima tahun. Istri dokter Li lagi menginginkan anak kedua. Yang sekarang memang sudah diijinkan di Tiongkok.

Komentar


VIDEO TERKINI