Pencari Kerja

Selasa, 11 Februari 2020 10:03

Bupati Takalar , Peserta International Visitor Leadership Program (IVLP)

Oleh Syamsari Kitta, Washington DC

FAJAR.CO.ID– Gedung ini dipenuhi anak muda. Tidak seperti gedung-gedung yang kami datangi sebelumnya; berpakaian formal dengan kemeja, dasi dan jas.

Gaya pakaian mereka lebih kasual dan santai. Setelah dipersilakan memasuki gedung, terlihatlah sejumlah kelompok anak muda yang sedang mempersiapkan bahan ajar.

Di beberapa bagian lain di gedung ini, terlihat kelas-kelas belajar yang dipenuhi peserta dengan usia yang tampak jelas lebih muda lagi.

Siapakah mereka? Mereka anak muda yang berusia antara 14 sampai dengan 19 tahun.

Mereka tengah mendaftar untuk mengikuti pelatihan persiapan memasuki dunia kerja. Bayangkan, sejak dari usia SMP sudah disiapkan untuk menjadi tenaga kerja profesional. Jumlahnya tidak main-main, sekitar 400 orang setiap angkatan dilatih selama enam pekan.

Saat libur musim panas, jumlahnya mencapai 29 ribu orang. Anak-anak muda tersebut dilatih oleh sebuah LSM lokal di Distrik Columbia, tetangga Washington DC, bernama The Marion Barry Youth Leadership Institute (MBYLI).

Mereka diberikan materi kepemimpinan dan pengembangan diri sebagai tahap penyiapan mental. Selanjutnya, para peserta akan mengikuti orientasi lapangan di kota-kota di AS, berdiskusi dengan pemerintah lokal dan penduduk setempat tentang penciptaan pelayanan publik yang baik, mengunjungi universitas, pelaku industri, bahkan diajak ke luar negeri untuk memperluas wawasan.

Sebagai sebuah LSM yang berdiri sejak 1979, MBYLI bekerjasama dengan pemerintah lokal dan berbagai stakeholder untuk memberikan pengetahuan teoritis, pengenalan kepada dunia industri dan pelayanan publik, serta pengalaman bekerja kepada para peserta.

Model penyiapan tenaga kerja ini tidak hanya ditemukan di Distrik Columbia, tetapi juga ada di setiap kota di AS. Itulah yang disampaikan kepada kami oleh seorang anggota Arlington County Board (DPRD ala Indonesia) di Negara Bagian Virginia.

Di Arlington-Virginia inilah didirikan markas Amazon, salah satu perusahaan e-commerce terbesar di dunia.

Kesibukan para pencari kerja untuk mengikuti pelatihan sejenis ini bukanlah tanpa alasan. Persaingan di AS sangatlah ketat dengan standar rekrutmen para pekerja di sektor swasta dan lembaga pemerintahan yang terbilang cukup tinggi.

Oleh karenanya, para pencari kerja itu harus memiliki kualifikasi yang tinggi. Ya, inilah Amerika Serikat yang berpenduduk hampir 330 juta jiwa.

Para petinggi yang kami temui, baik itu anggota Kongres, Dewan Kota, Pejabat eksekutif, petinggi lembaga think tank, akademisi, para aktivis LSM mengakui bahwa mengelola potensi sumberdaya manusia sebanyak itu bukanlah pekerjaan gampang.

Dengan adanya kesadaran kolektif seperti itu maka pemerintah, swasta dan semua stakeholder bahu membahu membangun tata kelola yang efektif dan efisien dalam mengelola sumber daya manusia (SDM) di AS.

Mereka saling mendukung dalam penyiapan tenaga kerja yang berkualitas.

Alhasil, tingkat pengangguran di AS yang meroket hingga 10% setelah Krisis Ekonomi 2008, bisa dikurangi perlahan hingga kini mencapai angka ‘hanya’ 3,6 %. Berkat sistem yang ada pula, tenaga kerja yang dihasilkan bukan hanya terserap di dalam negeri tetapi juga dapat bersaing di dunia internasional.

Pengelolaan SDM yang baik sangatlah diperlukan karena akan menjadi pembangkit ekonomi negara. Sebaliknya, jika tidak dikelola dengan baik maka akan menjadi beban negara. Manusia harus “dibentuk” menjadi inti dari kemajuan. Manusialah yang memiliki kemampuan untuk mendesain sistem yang efektif dan efisien, melakukan inovasi dan menciptakan teknologi.

Adalah hal yang lumrah untuk bercermin pada kesuksesan warga AS dalam mengelola para pencari kerja dan berusaha mencari format yang tepat sesuai dengan kearifan lokal dan kemampuan yang kita miliki di Indonesia.

Apalagi, Indonesia adalah negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia dan akan mengalami puncak bonus demografi pada tahun 2030 karena pada tahun itu angka rasio ketergantungan Indonesia akan mencapai angka terendah, yaitu 44%, artinya jumlah kelompok usia produktif (15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (anak- anak berusia14 tahun kebawah dan orang tua berusia 65 tahun ke atas).

Tentu saja, Indonesia akan menghadapi lonjakan dalam jumlah pencari kerja. Kita harus memastikan bahwa kita siap. (*)

*Bupati Takalar, Peserta International Visitor Leadership Program (IVLP)

Bagikan berita ini:
8
4
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar