Achmad Yurianto: Apakah Coronavirus Bisa Dilihat dari Hidungnya

Penumpang MRT menggunakan masker di Kawasan stasiun MRT Bendungan Hilir, Jakarta, Jumat (7/2). Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Coronavirus sebagai kondisi darurat Internasional pada 31 Januari 2020. Hal ini dibuktikan dengan adanya penyebaran virus yang meluas sebanyak 18 negara yang terkena Coronavirus. Masyarakat turut antisipasi penyebaran virus dengan menggunakan masker saat berada di luar ruangan. FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.

Data terakhir Kemenkes, sudah ada 77 spesimen dari 77 orang terduga (suspect) dan 75 di antaranya negatif virus Korona. Tak hanya mahasiswa asal Maluku, tetapi sebanyak 26 mahasiswa di Nusa Tenggara Barat yang juga sebelumnya pulang dari Tiongkok (bukan dari Wuhan) masih terus dipantau kondisinya.

“Sekarang masih banyak mahasiswa yang pulang. Terakhir ada 26 mahasiswa yang dapat beasiswa asal NTB yang sekolah di Tiongkok. Maka begitu pulang di sekitar Mataram secara periodik mereka dikumpulkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan,” kata Yurianto.

Menuruytnya, pengawasan dan pencegahan atau surveilens di tingkat daerah kabupaten kota adalah kunci penanganan utama. Dinas Kesehatan setempat harus jadi pionir untuk mencegah penularan virus ini.

“Karena memang SOP-nya tak semua harus dicek. Hanya yang mengalami gejala klinis saja, dan usai kontak atau pulang dari negara terdampak. Misalnya mengeluh panas, sesak napas, kita hitung frekuensi napasnya, jika ada influenza berat, barulah kami uji. Enggak semua orang yang pulang turun dari pesawat harus buka mulut untuk diuji, pahami ya,” tegasnya. (jpc/fajar)

Komentar


KONTEN BERSPONSOR