In Memorium Prof. Dr. Radi A Gany, Pria Santun Telah Berangkat

Jumat, 14 Februari 2020 08:35

Oleh Hamid Awaludin

Otoritas mutlak Ilahi terhadap hidup dan kematian hamba-Nya, berlaku terus. Tak ada yang bisa menyoal, apalagi menolaknya. Domain dan jurisdiksi absolut Sang Pencipta dan penguasa hanya bisa diterima bagi hamba-Nya. Pukul 2 dinihari, tanggal 13 Februari 2020, hukum dan keputusan tentang domain Ilahi tersebut, berlaku terhadap diri Prof. Dr. Radi A Gany, mantan Rektor Universitas Hasanuddin.

Pria yang menghabiskan sebagian terbesar masa hidupnya dalam bidang Pendidikan tersebut, pergi memenuhi panggilan Ilahi. Ia tunduk pada keputusan Yang Maha Kuasa. Lantas, mengapa kita semua harus menangisi, bersedih dan berduka lara mengiringi kepergian seseorang? Bukankah itu semua sudah kita tahu dan yakini bahwa ini berlaku bagi siapa pun dan kapan saja?

Ya, kita bersedih karena jejak kebaikan orang yang pergi itu. Kepergiannya penuh torehan yang menyentuh batin, yang berbekas dalam bentuk kenangan abadi. Keberangkatannya meninggalkan luka batin bagi yang ditinggalkan karena kita tahu dan sadar sepenuhnya, bahwa mungkin jejak-jejak yang ditinggalkannya itu tak bakal tergantikan. Bisa jadi juga, jejak yang berbekas itu jadi panduan kebaikan dan keteladanan bagi siapa saja. Dalam konteks seperti inilah kita bersedih mengiringi kepergian Professor Radi A Gany. Bukan lantaran kita hendak menggugat mengapa dia harus pergi.

Sepekan silam, saya mengunjunginya di rumah sakit. Ia sedang berjuang serius menahan rasa sakit dengan berbagai peralatan medis yang dipasang di bagian tertentu tubuhnya. Saya hanya mendengar napasnya yang tersengal-sengal. Kawan saya yang terbaring lunglai itu, sangat kurus. Ia seakan hanya tulang yang dibungkus dengan kulit. Saya tak tahan menyaksikannya. Saya mundur dan menyudut, mencari lokasi yang sepi lalu menangis sejadi-jadinya. Saya tak kuasa lagi melihat derita sahabat saya ini.

Komentar


VIDEO TERKINI