Badik Mangkau Patappulo Panre, Persembahan untuk Hari Jadi Bone

Badik Mangkau Patappulo Panre

FAJAR.CO.ID, WATAMPONE -- Ada persembahan sakral dalam Hari Jadi Bone ke-690 nanti. Kawali Mangkau Patappulo Panre atau badik yang dibuat oleh 40 Panre Bessi.

Di Paccing, Desa Lappo Ase, Kecamatan Awangpone 40 pandai besi itu berkumpul Jumat, 14 Februari. Sekitar 10 km dari kota Watampone.

Mereka memulai prosesi ritual pembuatan Kawali Mangkau. Badik itu harus selesai pada 5 April mendatang. Malam Jumat. Sebelum hari jadi Bone yang ke 690 pada tanggal 6 April.

Gendang pun dibunyikan. Gendrang bali sumange, yang artinya mengembalikan semangat. Ada enam orang yang memakai pakaian putih untuk melakukan ritual. Ada yang berdiri, ada pula yang duduk di depan salah seorang Panre Bessi. Mereka adalah bissu.

Pammatoa Bissu, Syamsul Bahri memulai prosesi maddupa atau dimulainya acara. Di depannya ada panre bessi yang turun di lubang. Dihadapannya ada bara api. Setelah prosesi ritual itu ada empat orang pandai besi. Mereka mulai memanaskan dan memukul. Berganti-gantian. Sebab ruangannya kecil.

Panre Polojiwa, Andi Ancu menjelaskan badik yang akan dibuat itu. Katanya, ada pamor-pamor yang akan muncul, ada lingkaran bulan tiga disebut tering tellu yang maknanya lempu, getteng, ada tongeng.

"Tering tellu itu tidak sembarangan. Bukan hanya bulatan saja. Ada ure tuo (urat hidup), dan titik uleng puleng. Ini sudah ditentukan oleh Allah SWT yang sudah diniatkan ke Panre," katanya.

Kemudian ada lima timpa laja. Maksudnya ada lima pangaderen di tanah Bone, ada pamor tebba jampu yang muncul atas kehendak Allah SWT, ada attuppung batu lappa, ada pamor gigi 40 yang menandakan 40 panre yang menempa. "Inilah badik terbaik. Inilah badik mangkau lanro patappulo di Bone," sebutnya.

Namun perlu diketahui bahwa, sebelum memulai prosesi itu sudah terlebih dahulu dilakukan ziarah kubur ke Raja kedua Bone, La Ummasa yang dijuluki sebagai Petta Panre Bessie. Kemudian malam harinya meminta izin juga kepada leluhur.

"Prosesi hari ini tidak ada tenda. Karena langit yang menjadi tenda. Tidak bakalan ada hujan," sambut Alfian T Anugrah selaku otak dari pembuatan Kawali Mangkau Patappulo Panre.

Kata lelaki yang gemar memakai topi itu, Bone memiliki banyak panre andalan, makanya dibuat hal baru untuk dikenang. 40 panre besi buat satu badik. "Kita membuat kawali (badik, red) jenis baru lebih sakral, karena melibatkan 40 panre," ucapnya.

Badik jenis baru itu menjadi agenda dalam hari jadi Bone untuk diserahkan dan diberikan prasasti dan dipajang di Museum Arajang. Pamor itu bentuk ukiran yang mempunyai makna.

Alfian sapaan karibnya, menjelaskan di kerangkanya ada ukiran 17 emas yang menandakan 17 rakaat salat sebagai penanda tiang agama. Ukirannya itu bunga kawarang (sebagai tanda bersatunya tujuh matoa membentuk sebuah kerajaan. Saat pertama manurunge menjadi raja).

Pegangannya itu dibuat dengan ukiran emas dan kepala garuda. Terinspirasi dengan lambang negara. Panjang bilanya adalah ukuran satu lengan sampai ujung telunjuk. "Tangan Pak Bupati yang dijadikan ujuran. Karena dia bupati atau pemimpin," bebernya.

Badik itu juga memiliki empat unsur. Angin, Api, Air, dan Udara. Serta empat arah angin yang dikuasai menjadi satu. "Memang ini badik baru, dengan bahan yang bagus dan menjadi satu jenis badik. Dulu kita hanya kenal badik raja, gecong. Mangkau jenis barunya," ungkap lelaki berpostur tubuh tinggi itu.

Sambung mantan Ketua BK DPRD Bone itu, Bissu dilibatkan dalam prisesi ink karena dia pengawal arajang. Di zaman kerajaan Bissu adalah orang-orang yang dipercaya. "Apalagi ini badik akan disimpan di arajang maka dikawal oleh Bissu," terangnya.

Sementara Bupati Bone, Andi Fahsar Mahdin Padjalangi menyambut baik hal itu. Dia meminta agar memakai nama Mangkau. Raja sama konotasinya dengan mangkau. Raja pemberian gelar dari Belanda, Mangkau murni pemberian dari adat yang murni lahir di Bone.

Fahsar juga mengapresiasi karena, mempertemukan 40 panre besi saja sangat susah. Apalagi mau berbuat untuk satu, dan inilah tanda kebesaran dari pallanroe yang bisa menjadi satu. "Orang akan berdatangan mencari kita semua (Panre bessi, red). Dan ini tidak bisa dinilai dengan harga. Besi lainnya bisa, ini tidak bisa karena ada 40 panre," katanya.

Dia meminta, buatlah tanda sebagai ciri khas dalam pembuatan badik ini. Yang menandakan mangkau ada karakternya tersendiri. Ketika dicabut langsung ditau kalau ini adalah badik mangkau, bisa dibedakan dengan badik raja, dan gecong.

"Ini akan dipersembahkan kepada Bone. Bukan Fahsar. Saya pribadi mau sekali, tapi ini lebih pantas dimiliki oleh Bone ketimbang saya secara pribadi. Karena akan disimpan di Museum Arajange. Nanti dipersandingkan dengan Lamangkawali, Lamakkawa, dan akan diberikan tempat disitu," tutur bupati dua periode itu.

Untuk itulah seluruh panre bessi agar sungguh-sunggu membuat badik ini. Ilmu yang disembunyikan selama ini agar dikeluarkan semua. "Tapassukku memengni kuro, karena kalian semua memiliki isi soal itu. Karena inilah menjadi simbol Bone ke depan," cetusnya. (gun)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad

Comment

Loading...