Tindak Lanjut BPN Lambat, Warga Martasari Duduki Kebun Sawit

0 Komentar

ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, PASANGKAYU — Lambatnya sikap Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sulbar menindaklanjuti rekomendasi gubernur soal pengukuran lahan sawit di Desa Martajaya, Kabupaten Pasangkayu, yang merupakan area kebun PT Mamuang mulai menimbulkan kekisruhan.

Siang tadi, sedikitnya 100-an gabungan warga Desa Tikke dan Desa Martasari Kabupaten Pasangkayu berunjukrasa menduduki lahan sawit milik salah satu anak perusahaan dibawah bendera PT Astra Agro Lestari (AAL) tersebut.

Salah seorang peserta aksi, Ineng Lodea mengatakan pihaknya melakukan aksi karena merasa lahan tersebut miliknya, namun telah diklaim sepihak oleh pihak perusahaan sejak 15 tahun lalu. “Saya tetap bersama dengan teman-teman korban lainnya berjuang mendapatkan kembali hak-hak kami,” kata Ineng, Sabtu, 15 Februari 2020.

Terlebih karena sudah terbit rekomendasi Gubernur Sulawesi Barat No.2100/2609/2019 yang memerintahkan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Sulawesi Barat melakukan pengembalian batas, atau pengukuran ulang terhadap lahan hak guna usaha (HGU) No 1 Martajaya yang saat ini dikuasai PT Mamuang.

Sayangnya, warga menyesalkan karena hingga saat ini BPN belum melakukan pengukuran dimaksud.

Public Relation area Sulawesi PT Astra Agro Lestari (AAL), Jonathan, yang dikonfirmasi terpisah menyampaikan kondisi di lokasi dimaksud sudah kondusif.

Yang terjadi adalah penutupan jalan untuk mengantisipasi pencurian TBS (tandan buah segar, red) oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab. “Hal ini sudah dibicarakan dengan masyarakat dan tidak ada pendudukan dari warga,” kata Jonathan. (nur)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...