Fakta Ilmiah, Perasaan Cinta Ternyata Hanya Pengaruh Hormon?

Ilustrasi/FAJAR

FAJAR.CO.ID -- Fakta Ilmiah Dibalik Perasaan Cinta, Benarkah Cuma Pengaruh Hormon?

Cinta merupakan salah satu emosi paling kuat yang dirasakan manusia. Frasa rela melakukan apa saja demi cinta bukan omong kosong. Seseorang relah letih, capek, bahkan melakukan kejahatan demi rasa cinta kepada orang lain.

Cinta sering didefinisikan sebagai perasaan kasih sayang yang kuat atau konstan. Tetapi apakah Anda tahu bahwa itu juga merupakan proses fisik di otak yang dipicu oleh hormon yang disebut oksitosin?

Ya, para ahli mengatakan ada interaksi yang sangat kompleks antara hormon dan perilaku kita. Oksitosin, atau yang juga lazim disebut hormon cinta, bisa membuat Anda melakukan hal-hal tak terduga.

"Ketika seseorang tersenyum tulus kepada Anda, otak Anda segera merasakan ketulusan dan memerintahkan kelenjar pituitari posterior Anda untuk melepaskan oksitosin, yang merupakan hormon vital yang terlibat dalam interaksi sosial dan ikatan pada manusia," kata Dr. Cagri Gulumser, seorang dokter kandungan yang praktik di ibu kota Turki, Ankara, dilansir Anadolu Agency.

Cagri mengatakan bahwa apa yang umumnya orang gambarkan sebagai daya tarik atau 'getaran positif' sebenarnya adalah pertukaran oksitosin yang membuat orang merasakan emosi satu sama lain. Emosi yang muncul ini di antaranya adalah kebahagiaan, rasa sakit, dan cinta.

Oksitosin disebut sebagai protein dan nanopeptida yang bertindak sebagai hormon sekaligus sebagai neurotransmitter.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : rasid alfarizi


Comment

Loading...