Sekolah Guru SIT Nurul Fikri Makassar, Guru Dibekali Keterampilan Riset

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– SIT Nurul Fikri Makassar menggelar kegiatan Sekolah Guru “Membangun Keterampilan Riset di Era Milenial” di Auditorium H. Bata Ilyas, Jalan Meranti, Kecamatan Panakukang. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari sejak hari sabtu hingga minggu (15-16/02/2020).

Biasanya, kegiatan Sekolah Guru dilaksanakan secara internal setiap pekan berjalan oleh pemateri internal pula. Namun kali ini, SIT Nurul Fikri Makassar menghadirkan Ibu Wulandini, Konsultan Pendidikan dan sebagai CEO Sekolah Alam Depok.

Hadir pada kesempatan tersebut, Ketua Yayasan Darul Fikri Makassar yang mengelola SIT Nurul Fikri Makassar, Hartono. Beliau menyampaikan kepada seluruh guru untuk terus berproses menjadi lebih baik. “Tempa diri kita selalu, dekatkan diri kita dengan Allah dan Alquran. Jadikan pekerjaan sebagai guru sebagai sebuah profesi sehingga kita dibayar karena kita bahagia menjalankannya.” Pesannya.

Sebagai materi awal, Ibu Wulan menantang para guru untuk mencari tahu kira-kira apa yang kemudian melahirkan hadirnya istilah kecakapan abad 21 yaitu 4C (Critical Thinking, Commmunication, Creativity, dan Colaboration). Maka guru dibagi menjjadi 14 kelompk, membuat poster, dan menjelaskan tentang pendapat mereka. Ada yang berpendapat karena penduduk di dunia semakin banyak, karena adanya persaingan, semakin berkembangnya teknologi, dan banyak hal lain.

“Riset itu masalah ikhtiar. Domainnya adalah manusia. Seberapa mau kita mengubah diri kita dengan ikhtiar, bukan dengan kejutan-kejutan.” Terang Ibu Wulan.

“Beberapa harus meneliti dulu. Jika sudah ada rencana-rencana, lebih menjamin sesuatu akan terselesaikan dengan baik.” tambahnya menjelaskan.

Seluruh guru kemudian menerima materi tentang bagaimana cara menanamkan proses riset yang baik dengan merujuk pada ranah 5E yaitu Engage, Explore, Explain, Elaborate, dan Evaluate. Setelah menerima materi, dilakukan simulasi riset. Setiap kelompok membuat sebuah percobaan dan wajib menghadirkan seluruh ranah 5E dan dibuktikan dengan video berdurasi tiga menit untuk ditampilkan di hadapan seluruhnya.

Terakhir, Ibu Wulan menyampaikan bahwa kita perlu berpikir kritis. Prinsip 5E berdasarkan pada ‘anak sendiri yang membangun bangunan pemahamannya sendiri’. Fasilitator atau guru harus menahan diri untuk ikut terlibat. (*/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...