Aturan Cuti Keguguran & Hak Lainnya bagi Karyawan Perempuan

Talenta CEO Power breakfast. (IST)

Sebagaimana cuti haid dan cuti melahirkan, cuti keguguran juga diatur oleh Undang-undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003. Berikut penjabaran dari ketentuan-ketentuan cuti yang terkait untuk karyawan perempuan.

Cuti Keguguran

Menurut Dr. Chrisdiono M Achadiat Sp.OG dalam bukunya Obstetri dan Ginekologi, keguguran merupakan suatu proses berakhirnya suatu kehamilan, ketika janin belum mampu hidup di luar rahim. Kriteria keguguran yaitu saat usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Kebanyakan kondisi keguguran terjadi antara minggu ke 7 sampai minggu ke 12 atau yang lazim dikenal dengan trimester pertama. Jika terjadi setelah kehamilan minggu ke-20, kondisi ini disebut lahir mati atau stillbirth.

Keguguran biasanya terjadi saat karyawan perempuan yang sedang hamil, tidak menyadari kehamilannya sehingga masih melakukan aktivitas yang membahayakan kandungan. Namun, karyawan perempuan yang telah menyadari kehamilannya pun tetap memiliki risiko 10-20% mengalami keguguran. Hal ini tentu saja disebabkan oleh banyak hal.

Oleh karena itu, penting untuk Anda perhatikan karena hal ini yang akan menentukan apakah seorang karyawan perempuan berhak menerima cuti keguguran atau cuti melahirkan. Namun tentunya sebagaimana Pasal 82 ayat 2 Undang-undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003, perusahaan harus memperhatikan surat keterangan dokter terkait dalam memutuskan hal tersebut.

Cuti melahirkan dan cuti keguguran memiliki karakteristik yang berbeda. Secara umum, total cuti yang berhak diambil saat cuti melahirkan yaitu selama 3 bulan. Sementara cuti keguguran, memberikan hak cuti selama 1,5 bulan.

Hal ini sesuai dengan UU Ketenagakerjaan Pasal 82 ayat 2, yang berbunyi:

Komentar

Loading...