Pembobol Negara Rp35 Triliun Disinyalir Sembunyi di Singapura

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kasus korupsi yang terjadi di PT Trans Pasific Petro Chemical Utama (TPPI) menarik perhatian komisi III DPR RI. Hingga kini, perkara yang merugikan negara sebesar Rp35 triliun tersebut belum tuntas penanganannya. Terlebih, satu orang masih buron. Yakni Honggo Wendratno. Polisi mensinyalir, buronan tersebut berada di Singapura.

“Komisi III DPR ingin mendapatkan penjelasan dari Kabareskrim Polri secara komprehensif mengenai perjalanan kasus tersebut,” kata Ketua Komisi III DPR RI Herman Hery di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/2).

Dia mengatakan Komisi III DPR RI memiliki konsen yang serius terhadap permasalahan penegakan hukum dalam perkara korupsi penjualan komdensat oleh PT TPPI. Menurutnya, dalam kasus itu juga diduga melibatkan Satuan Kerja khusus pelaksana kegiatan usaha minyak dan gas bumi atau SKK Migas dengan nilai kerugian yang fantastis. Yakni Rp35 triliun.

“Bareskrim Polri beberapa waktu lalu sudah melimpahkan tahap dua berkas tersebut ke Kejaksaan Agung untuk dua tersangka. Yaitu Raden Priyono dan Joko Harsono. Sementara itu, tersangka Honggo Wendratno proses sidangnya secara in absentia. Karena statusnya buronan,” jelas Herman.

Perjalanan kasus tersebut cukup lama. Tepatnya sejak 2015. Namun, hingga kini pengungkapannya belum tuntas. Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo menyebut buronan Honggo Wendratno terdeteksi berada di Singapura. “Beberapa upaya untuk menghadirkan tersangka HW ini sudah dilakukan. Kami menduga yang bersangkutan sampai saat ini bersembunyi di Singapura,” tegas Listyo.

Mantan ajudan Presiden Joko Widodo ini menyatakan Polri juga telah menghubungi pemerintah Singapura. Namun, otoritas Singapura tidak bisa membantu mencari seorang tersangka yang statusnya hukumnya belum inkrah alias berkekuatan hukum tetap. “Upaya menghubungi pihak Singapura sudah kami lakukan. Tetapi di sana dijawab bahwa terkait dengan menghadirkan seseorang dalam status tersangka itu sulit. Mereka bisa membantu apabila status tersangka HW sudah inkrah,” paparnya.

Herman mempertanyakan keseriusan Polri menangkap Honggo. “Jawaban Kabareskrim secara formal yes. Namun yang membuat Komisi III DPR penasaran adalah Honggo Wendratno ini menghilang. Kemudian didorong sidang in absentia. Apakah sebegitu sulit menemukan tersangka ini. Siapa yang dulu memberikan kebijakan kepada Honggo pergi ke Singapura. Padahal dia sudah pernah ditangkap,” tuturnya.

Dia mencurigai ada pihak lain yang terkait dalam kasus tersebut. Sebab, perkara TPPI ini sangat besar. Tetapi ada dugaan sengaha didiamkan sekian tahun. “Artinya orang ini sekarang sudah menjadi permanen residen di Singapura. Terkait status tersebut, ini yang perlu polisi dalami kembali,” bebernya.

Komisi III, lanjutnya, akan menggelar RDP lanjutan terkait kasus TPPI ini. Selain Kabareskrim Polri, DPR juga akan memanggil Jampidsus Kejaksaan Agung. Namun waktunya belum diputuskan. “Kami beri kesempatan Jampidsus dan Kabareskrim mengumpulkan bahan yang lebih akurat. Sehingga rapat gabungan nanti berlangsung komperehensif,” terangnya.

Seperti diketahui, ada tiga tersangka yang ditetapkan dalam kasus korupsi kondensat ini. Mereka adalah mantan Ketua BP Migas Raden Priyono dan mantan Deputi Finansial Ekonomi dan Pemasaran BP Migas, Joko Harsono. Keduanya sudah diserahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Sementara, proses peradilan tersangka Honggo Wendratno tetap berjalan, meski secara in absentia. (fin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah Umar

Comment

Loading...