Dukungan Parpol Danny Pomanto Dinilai Paling Rawan, Begini Alasannya

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Rekomendasi partai politik (parpol) boleh saja di tangan. Namun, belum ada jaminan diusung. Kandidat harus waspada jebakan parpol.

Surat rekomendasi baru bisa dikatakan sedikit aman ketika sudah layak dipakai mendaftar di KPU. Bentuknya sudah berupa SK dengan model formulir B1-KWK. Model begini pun belum tentu jaminan, sebab parpol bisa membatalkan SK dengan SK baru.

Kemarin, dua kandidat Wali Kota Makassar telah mendapatkan rekomendasi. Moh Ramdhan Pomanto alias Danny Pomanto (DP) mendapatkan rekomendasi Partai Nasdem. Sementara Irman Yasin Limpo (None) mendapatkan PAN. Dukungan ini masih rentan beralih.

Posisi Danny dinilai paling rawan. Sebab, berkaca pada Pilwalkot 2018, rekomendasi parpol ditarik di tengah jalan. Dua kandidat berpeluang mengambil rekomendasinya: None atau Munafri Arifuddin (Appi). Kedua figur ini disebut memiliki koneksi yang cukup kuat di pusat. Sementara, Danny masih dipertanyakan.

“Appi punya pengaruh dari Pak JK. Permintaannya masih didengar di sejumlah partai. Belum juga ada Aksa Mahmud. Lainnya, ada None. Tentu Pak Syahrul tidak mau kasi (Danny) sementara adiknya juga mau maju,” kata pakar politik Unhas, Ali Armunanto, Kamis, 20 Februari.

Syahrul Yasin Limpo memiliki kepentingan di Makassar. Pengaruhnya di partai, untuk meloloskan adiknya cukup besar. “Kalau detik-detik terakhir yang keluar dari pusat namanya None, kan lucu. Tersingkir lagi,” ujarnya.

Apalagi jika rekomendasi yang dipegang Danny hanya dari DPD. Maka potensi untuk disingkirkan sangat besar. Hal itu berdasarkan kejadian pada Pilgub 2018. Ichsan Yasin Limpo dibegal oleh Agus Arifin Nu’mang untuk mendapatkan rekomendasi PPP.

Karenanya, menurut Ali Armunanto, kondisi ini perlu dicermati dengan baik oleh Danny. Jangan sampai rekomendasi hanya menjadi jebakan belaka. Apalagi, rekam jejak Danny yang meninggalkan Demokrat dan sudah berseberangan, menjadi penghalang.

“Kalau melakukan hal yang sama, itu adalah kebodohan politik. Terlalu percaya dengan hal itu. Sebenarnya sudah mumpuni di jalur independen,” ungkapnya.

Belum lagi jika salah seorang bakal calon lainnya bisa memborong semua partai, seperti yang dilakukan Appi pada pilwalkot sebelumnya. Meski pada akhirnya, Appi dinyatakan kalah oleh kolom kosong.

“Artinya, siapa yang memiliki kekuatan di pusat, maka peluangnya jauh lebih besar,” imbuh Ketua Jurusan Ilmu Politik FISIP Unhas itu.

Kursi Harapan

Di DPRD Makassar, Nasdem merupakan pemenang Pemilu 2019 dengan mengontrol enam kursi dan menduduki kursi Ketua DPRD Makassar. Sementara PAN memiliki lima kursi. Baik Danny maupun None tetap harus berkoalisi agar mencukupkan 10 kursi sebagai syarat maju Pilwalkot.

Danny membenarkan adanya surat tersebut. Semangat yang diperlihatkan Danny kali ini cukup berbeda dengan Pilwalkot sebelumnya. Kala itu, Danny yang berpasangan dengan Indira Mulyasari juga mendapatkan rekomendasi oleh partai. Namun, rekomendasi tersebut tidak bertahan lama lantaran pindah ke kandidat lain.

“Ini adalah kepercayaan dari Partai Nasdem. Tentu saya akan pertanggungjawabkan memenangkan,” jelasnya.

Belum terkonfirmasi apakah rekomendasi Nasdem sudah dijemput atau masih di DPP.
“Jadi saya ulangi lagi, di tanggal 22 (Februari) nanti saatnya rakyat akan bersama partai. Saya pikir itu saja,” jelasnya.

Garansi Nasdem

Terpisah, DPW Nasdem Sulsel pun menggaransi bahwa dukungan tersebut sudah final. Sekretaris DPW Nasdem Sulsel, Syaharuddin Alrif mengaku Danny diminta untuk melakukan komunikasi lanjutkan kepada partai lain. “Itu sudah final. Tidak ada lagi perubahan,” katanya.

Sekadar surat tersebut bernomor 020-SI/RP/DPP-NASDEM/II/2020 tertangal 20 Februari 2020. Surat rekomendasi tersebut ditandatangani Ahmad Ali sebagai Wakil Ketua Umum dan Prananda Surya Paloh sebagai Ketua Koordinator Pemenangan Pemilu DPP NasDem.

“Selanjutnya Danny diharuskan memenuhi poin-poin yang ada di surat rekomendasi tersebut. Salah satunya membangun koalisi parpol untuk mencukupkan jumlah (minimal 10 kursi parlemen) sebagai syarat maju di Pilwali Makassar,” beber Syahar.

Matahari Terbit

Sementara itu, penyerahan rekomendasi PAN kepada None, secara resmi dilakukan di Hotel Claro, malam tadi. Sekretaris DPW PAN Sulsel Jamaluddin Jafar yang menyerahkannya. None merespons rekomendasi itu dengan mengajukan surat cuti di luar tanggungan negara.

“Besok (hari ini) saya akan ajukan surat cuti di luar tanggungan negara. Sembari menunggu proses pengunduran diri saya pada bulan Juli,” kata None.

Adik Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo itu mengatakan, akan menghormati proses kerja dan tanggung jawabnya sebagai ASN sehingga dia memutuskan untuk cuti setelah mendapat rekomendasi dari Partai Matahari Terbit.

Sekretaris Tim Desk Pilkada PAN Sulsel, Irfan AB mengungkapkan DPP punya pertimbangan yang cukup matang, hingga memutuskan mengusung None pada Pilwalkot Makassar. None memiliki peluang besar untuk memenangkan pertarungan.

“Ini juga semacam dendam masa lalu. Karena di Pilwalkot 2013, PAN hampir memenangkan beliau di Pilwalkot. Ke depan, PAN akan memenangkan None,” tegasnya.

Senada disampaikan Ketua Tim Desk Pilkada PAN Sulsel, Syamsuddin Karlos. Ia mengungkapkan, DPP telah menganalisis dan telah melihat secara betul-betul, siapa kandidat yang bisa membawa Makassar menjadi lebih baik. (ans-rdi-taq/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...