Susur Sungai Sudah Tewaskan Delapan Pelajar, Dua Hilang

Petugas mencatat data korban. Ada 250 siswa SMPN 1 Turi, Sleman, yang mengikuti kegiatan tersebut. (Elang Kharisma Dewangga/Jawa Pos Radar Jogja)

FAJAR.CO.ID — Sampai dengan pukul 19.05  WIB, delapan siswa berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan dua lainnya masih dalam pencarian.

Para siswa SMPN 1 Turi, Sleman, itu meninggal dunia akibat terseret arus di Sungai Sempor saat sedang melakukan kegiatan susur sungai‎.

Menurut Bupati Sleman, Sri Purnomo, susur sungai itu adalah kecerobohan. Sebab, aktivitas tersebut dilakukan saat musim hujan.

Ditemui di lokasi kejadian kemarin (21/2), Sri Purnomo mengatakan akan menghentikan sementara kegiatan susur sungai yang dilakukan sekolah maupun instansi terkait. Dia juga meminta kegiatan pertambangan di aliran sungai dihentikan.

“Kami evaluasi secepatnya. Kami juga memperingatkan kepada semua sekolah di Sleman, jangan sampai mengadakan kegiatan seperti ini. Sangat ceroboh melakukan kegiatan di sungai pada musim hujan, jelas sangat berbahaya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Purnomo mengatakan, insiden itu benar-benar di luar prediksi. Dia menduga, siswa-siswi tersebut tidak mampu menyelamatkan diri karena dihantam arus yang deras. Dia juga masih mengonfirmasi pihak sekolah untuk mengetahui apakah semua siswa sudah pulang ke rumah masing-masing atau belum. “Tapi, untuk saat ini fokus kami ke pencarian korban dulu,” ungkapnya.

Sementara itu, Triani, tante salah seorang peserta susur sungai, juga menyayangkan kegiatan tersebut. Dia mengaku syok saat mendengar insiden tragis itu. Warga Kembangarum tersebut mengetahui kejadian itu dari grup PKK kampungnya. “Keponakan saya ikut kegiatan itu. Makanya, saya langsung ke sini,” ujar Triani saat ditemui di lokasi kejadian kemarin.

Dia mengungkapkan, seharusnya kegiatan seperti itu memperhatikan kondisi cuaca. “Seharusnya di-pending atau cari lokasi lain. Di sungai kecil kan bisa, apalagi cuacanya nggak baik seperti ini,” tuturnya.

Kapusdatinkom BNPB Agus Wibowo menyatakan, insiden tersebut harus menjadi pelajaran bersama agar tidak terulang. “Kegiatan penyusuran sungai harus dilakukan orang dewasa dan terlatih,” katanya.

Agus menegaskan, anak-anak dan remaja dilarang melakukan penyusuran sungai. “Ketika dilakukan pada musim hujan, risikonya tinggi. Hujan di sekitar hulu sungai akan berdampak pada arus dan volume air hingga ke bagian hilir, jelas Agus.

Dalam beberapa hari terakhir, BMKG memang mengeluarkan warning bahwa wilayah Jawa masih terpapar hujan deras yang bisa disertai angin kencang. Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab menekankan perlunya memperhitungkan kondisi cuaca sebelum beraktivitas di sekitar sungai. “Intinya, hujan di hulu perlu menjadi perhatian dalam kegiatan susur sungai,’’ katanya.

BMKG mencatat, hujan deras dan angin kencang masih terjadi setidaknya sampai 23 Februari 2020. Massa udara basah di lapisan rendah terkonsentrasi di Lampung, Bangka Belitung, sebagian besar Jawa, Bali, NTB, NTT; Kalimantan bagian barat, tengah, dan selatan; sebagian besar Sulawesi, Maluku, Papua Barat, serta Papua. (JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam

Comment

Loading...