Tewaskan Siswanya, Kepala Sekolah Mengaku Tak Tahu Ada Susur Sungai

0 Komentar

SLEMAN BERDUKA: Anggota TNI-AL bersama relawan kemarin melanjutkan pencarian korban pelajar SMPN 1 Turi yang hanyut di Kali Sempor, Sleman, Jumat (21/2). (GUNTUR AGA TIRTANA/JAWA POS RADAR JOGJA)

FAJAR.CO.ID — Kepala SMPN 1 Turi, Tutik Nurdiana menbeberkan terkait program susur sungai yang dilakukan gugus depan (gudep) sekolahnya adalah program rutin. Namun, dia mengaku tidak tahu bahwa program tersebut diadakan pada Jumat (21/2/2020).

Menurut Tutik, susur sungai adalah kegiatan biasa bagi masyarakat Turi. “Saya kira itu biasa untuk mereka, bukan sesuatu yang khas. Hal itu terjadi di luar dugaan kami,” ungkap Tutik di SMPN 1 Turi kemarin.

Tutik menjelaskan, acara tersebut didampingi tujuh pembina Pramuka yang semuanya adalah guru SMPN 1 Turi. Program susur sungai, jelas dia, sudah ada sejak dirinya belum menjabat kepala sekolah. “Itu murni kegiatan sekolah,” tambah Tutik yang mengaku baru 1,5 bulan menjadi kepala SMPN 1 Turi.

Sampai tadi malam, penyisiran siswa hilang karena susur sungai di Sleman diperluas menjadi 27 kilometer dari titik kejadian. Wilayah terbagi menjadi empat bagian sampai ke wilayah aliran Sungai Sempor Bedog di sekitar ring road selatan.

Humas Basarnas DIJ Pipit Eriyanto menuturkan, seksi I mulai dari lokasi kejadian sampai Tempuran Bedog–Sempor yang berjarak 6,71 kilometer.

Seksi II berjarak 5,59 kilometer sampai ke Pertemuan Bedog–Selokan Mataram. Dilanjutkan seksi III yang menuju Gereja Gamping dengan jarak 7,91 kilometer. Seksi terakhir sampai di aliran Sungai Sempor–Bedog di wilayah ring road selatan dengan jarak 4,98 kilometer. ”Setiap section dikerahkan dua tim search and rescue unit (SRU). Setiap SRU terdiri atas lebih dari 50 relawan,” jelas Pipit kepada Jawa Pos Radar Jogja kemarin (22/2).

Sampai pukul 19.05 tadi malam, korban yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia delapan orang. Dua lainnya, yakni Yasinta Bunga dan Zahra Imelda, masih dicari. Sebelumnya, Nadin Fadhila telah ditemukan tak bernyawa pada Sabtu (22/2) pukul 10.15 di Dam Lengkong.

Menurut Pipit, tim gabungan telah melakukan penyusuran sampai seksi IV dan masih nihil. Kondisi sungai yang berbatu dan berongga membuat korban bisa tersangkut. Normalnya, dalam waktu tiga hari, jasad naik ke permukaan dengan sendirinya. ”Namun, karena berongga, dikhawatirkan masih tersangkut,” ungkap Pipit. Untuk mendukung pencarian, Basarnas menambah pemasangan jaring di aliran dekat Gereja Gamping. Sebelumnya, jaring dipasang di aliran Sempir yang ada di Dusun Balong. (JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...