Deputi Menkopolhukam Beri Kuliah Umum di Departemen HI Unhas

Senin, 24 Februari 2020 16:17

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– Universitas Hasanuddin melalui Departemen Ilmu Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), menggelar kuliah umum yang menghadirkan Duta Besar Lutfi Rauf (Deputi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Urusan Politik Luar Negeri).

Kuliah umum ini berlangsung di Aula Prof Syukur Abdullah, Lantai 3, FISIP Unhas Tamalanrea, Senin (24/2).

Duta Besar Lutfi Rauf merupakan alumni Hubungan Internasional FISIP Unhas, yang mengawali karier di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada tahun 1986.

Beliau menapak karier sebagai diplomat yang berpengalaman dalam berbagai penugasan, baik di dalam maupun di luar negeri.

Pada tahun 2007-2008, Lutfi Rauf ditunjuk sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasan Penuh Indonesia untuk Republik Slovakia. Pada tahun 2012-2016 beliau kembali dipercaya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasan Penuh Indonesia untuk Kerajaan Thailand/UN-ESCAP.

Sebelumnya, pada tahun 2008 – 2012 Lutfi Rauf dipercaya sebagai Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler yang sekaligus merupakan Kepala Protokol Negara, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Dalam sambutannya sebelum kuliah umum, Dekan FISIP Unhas, Armin Arsyad menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas kesediaan Lutfi Rauf untuk memberi kuliah. Pengalaman sebagai diplomat karir diharapkan dapat memberi inspirasi bagi mahasiswa FISIP, khususnya mahasiswa Hubungan Internasional.

“Hubungan Internasional merupakan prodi favorit di Unhas. Untuk masuk ke prodi ini, tingkat persaingan sangat ketat. Begitu juga mahasiswanya memiliki wawasan dan motivasi yang tinggi. Mudah-mudahan kehadiran Dubes Lutfi bisa memberi inspirasi bagi mahasiswa,” kata Armin.

Duta Besar Lutfi Rauf memberikan kuliah bertema “Kawasan Asia Tenggara: Potensi Konflik dan Upaya Penyelesaian Secara Damai”. Secara umum, Dubes Lutfi memaparkan tentang konstalasi internasional dan dinamika di kawasan, khususnya Asia Pasifik, dan bagaimana negara-negara Asia Tenggara memainkan peranan.

“Berbeda dengan organisasi regional lainnya, kita memiliki cara yang unik dalam setiap upaya penyelesaian persoalan. Itulah yang kita sebut sebagai ASEAN Way. Saya pernah dikritik oleh wartawan dalam Foreign Correspondent Meeting di Bangkok. Kata wartawan itu, ASEAN Way is No Way. Saya jawab, tidak. ASEAN Way is Our Way,” kata Dubes Lutfi.

Menanggapi berbagai dinamika dan potensi konflik di Asia Tenggara, negara-negara di kawasan dapat menyelesaikannya dengan cara-cara negosiasi. Langkah mengutamakan perdamaian ini disebut sebagai ‘constructive approach’, seperti yang kita tempuh dalam mencari solusi untuk kasus Myanmar.

“Ada yang bilang, kenapa ASEAN tidak mengambil tindakan tegas terhadap Myanmar. Saya sampaikan, Myanmar itu negara yang sudah berpengalaman hidup dalam isolasi. Jika negara itu memutuskan untuk menarik diri bahkan keluar dari ASEAN, kita bisa apa? Yang penting adalah mencari solusi terbaik, tanpa mengorbankan semangat regionalisme,” kata Dubes Lutfi.

Di akhir kuliah umumnya, Dubes Lutfi mengatakan bahwa diplomasi itu memang butuh waktu. Untuk itulah, seorang diplomat harus terbiasa sabar, sambil terus mencari solusi. Dubes Lutfi juga berharap agar pengkaji HI di Indonesia memanfaatkan peluang baru, misalnya dalam isu Indo-Pasifik. (*/fajar)

Bagikan berita ini:
9
5
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar