Hipertensi, Risiko Gagal Jantung dan Stroke 3 Kali Lipat

0 Komentar

FAJAR.CO.ID– Hipertensi yang tidak terkendali dan ditangani dengan tidak tepat akan menyebabkan kerusakan organ tubuh, yaitu pada otak, jantung, mata, ginjal serta pembuluh darah perifer. Kerusakan organ akan menyebabkan kecacatan yang berdampak beban biaya yang tinggi dan menurunnya kualitas hidup penderitanya. Tak hanya itu, hipertensi juga bisa menyebabkan kematian mendadak.

Celakanya, sebagian besar penderita hipertensi tidak menyadari bahwa dirinya telah menderita penyakit tersebut. Riskesdas tahun 2018 mencatat sebanyak 63 juta orang atau sebesar 34,1 persen penduduk di Indonesia menderita hipertensi. Dari populasi hipertensi tersebut, hanya sebesar 8,8 persen terdiagnosis hipertensi dan hanya 54,4 persen dari yang terdiagnosis hipertensi rutin minum obat.

“Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang mengakibatkan meningkatknya angka kesakitan dan kematian serta beban biaya kesehatan. Hipertensi tidak bergejala sangat bisa merusak organ-organ penting antara lain otak, jantung, ginjal, pembuluh darah besar sampai ke pembuluh darah kecil,” kata Ketua Umum InaSH atau Perhimpunan Dokter Hipertensi (PERHI) dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, FINASIM, baru-baru ini di Jakarta.

Diagnosis hipertensi sangat ditentukan oleh Man, Material, Method (3M), dalam hal ini yaitu dokter dan pasien, alat pengukur dan pengukurannya termasuk persiapannya. Pemeriksaan Tekanan Darah di Rumah (PTDR) berperan cukup penting untuk deteksi, diagnosis dan evaluasi terapi yang efektif serta bermanfaat memberikan gambaran variabilitas tekanan darah.

Menurut Tunggul, terdapat kasus khusus di mana pasien yang diagnosis hipertensinya meragukan, misalnya pre hypertension atau border-line hypertension, white-coat hypertension (tekanan darah tinggi bila diukur di klinik) atau masked hypertension (tekanan darah justru tinggi bila di luar klinik/di rumah).

Data penelitian PERHI tahun 2017 menunjukkan bahwa 63 persen pasien yang sedang diobati hipertensi tidak terkontrol. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hipertensi tidak terobati secara optimal oleh berbagai faktor. PTDR juga dapat meningkatkan tingkat kepatuhan pasien.

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa PTDR mempunyai nilai prognostik yang lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan tekanan darah di klinik. Data survei PERHI yang dilakukan pada dokter-dokter menunjukkan bahwa sebagian besar dokter (95 persen) sudah menganjurkan PTDR, namun tidak ada keseragaman dalam metode pengukuran maupun frekuensi pengukuran tekanan darah.

Hal senada ditegaskan Ketua Panitia 14th Scientific Meeting of InaSH 2020 dr. Ekawati Dani Yulianti, Sp.S. Menurutnya masyarakat harus memeriksakan tekanan darah ke fasilitas kesehatan sedini mungkin, agar tekanan darah dapat dikendalikan dan komplikasi yang dapat membuat cacat dan kematian dapat dicegah sedini mungkin.

Harus dipahami bahwa sebagian besar hipertensi bukan merupakan penyakit yang dapat disembuhkan total dan tujuan pengobatan dan tatalaksana adalah mengendalikan tekanan darah untuk mencegah komplikasi agar dapat menjalani hidup yang bahagia dan berkualitas. Untuk mencapai sasaran tersebut di samping pengobatan yang teratur, juga menerapkan gaya hidup yang sehat.

Dokter Spesialis Saraf dr. Amanda Tiksnadi, Sp.S (K), mengungkapkan, hipertensi, secara perlahan tapi pasti, akan menyebabkan komplikasi kerusakan struktural dan fungsional pembuluh darah dan juga organ-organ terminal (mata, otak, jantung, ginjal). Hal ini dikenal dengan istilah Hypertension-Mediated Organ Damage (HMOD).

Adapun beberapa manifestasi klinis HMOD terminal ini antara lain adalah gagal jantung, sindrom koroner akut, stroke, demensia vaskuler atau pikun, gagal ginjal dan gangguan pengelihatan termasuk kebutaan.

“HMOD pada umumnya baru bermanifestasi klinis pada kasus hipertensi berat dan kronis. Walaupun begitu, HMOD juga dapat dijumpai pada kasus hipertensi yang lebih ringan dan tanpa gejala (asimptomatik),” paparnya.

Hipertensi akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner sampai 2 kali. Sedangkan gagal jantung dan stroke sampai 3 kali lipat. (jpc/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...