Mengetuk Kesadaran Kolektif untuk Jakarta

Jalan bawah tanah atau underpass Kemayoran di persimpangan Jalan HBR. Motik Kemayoran Jakarta terlihat tenggelam, Selasa (25/2). Foto: Mentari Dwi Gayati

Oleh: Roso Daras

Ambles, amblas, ambyar. Menyedihkan. Usia kota Jakarta tinggal 30 tahun lagi! Itu perkiraan. Bukan sebuah kepastian, terlebih jika ada kesadaran kolektif serta upaya bersama untuk melawan takdir “tenggelamnya kota Jakarta”.

Begitulah. Jakarta sedang jadi sorotan gara-gara banjir dan banjir. Belum enyah genangan air, sudah muncul analisa ilmiah yang cukup menyeramkan.

Singkatnya, Jakarta sedang mengalami proses ambles (turun ke bumi/tenggelam). Jika benar, Jakarta akan amblas (hilang/lenyap/tak muncul-muncul lagi), lalu ambyar (tercerai-berai).

Dalam bahasa ilmiah, fenomena yang terjadi di Jakarta disebut land subsidence. Istilah ini diartikan sebagai peristiwa penurunan permukaan tanah. Diawali dengan publikasi ilmiah berjudul “New Elevation Data Triple Estimates of Global Vulnerability to Sea-Level Rise and Coastal Flooding”, di Jurnal Nature Communications, pada 29 Oktober 2019.

Laporan ilmiah itu menyebutkan, Jakarta dan sejumlah kota lain di dunia terancam ambles pada tahun 2050.

Ahli subsiden tanah dari United States Geological Survey (USGS), Michelle Sneed menyebutkan, tanah di kota Jakarta turun 17 cm setiap tahunnya.

Paralel dengan itu, ahli oseanografi Universitas Diponegoro Semarang, Denny Nugroho menyebutkan, air laut utara Jakarta naik 0,44 centimeter per tahun.

Dua daerah dengan tingkat ke-ambles-an terparah adalah Muara Baru (Jakarta Utara) dan Kalideres (Jakarta Barat). Di kedua daerah itu, penurunan tanah mencapai 1,5 hingga 1,8 meter.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam


Comment

Loading...