Selalu Dicibir Bikin Macet Jalan, Begini Cerita Pak Ogah yang Hidup di Jalanan

Pak Ogah sedang mengatur kendaraan yang ingin putar arah di jalan Sultan Alauddin. (Foto: M Ishak/fajar.co.id)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Hidup bergantung pada jalanan memanglah tidak enak. Berbeda dengan orang kantoran. Berpakaian rapih, dan kerja di ruangan ber-AC.

Hampir di setiap jalanan Kota Makassar, keberadaan pak Ogah selalu terlihat. Mereka mencari rezeki dari belas kasih pengendara.

Meski nyawa menjadi taruhan, tidak membuat semangat pak Ogah redup untuk mendapat serpihan rezeki dari pengendara yang ingin melintas.

Salah satu pak Ogah bernama Amir. Dia bersama teman-temannya selalu hadir membantu pengendara yang ingin putar arah, di titik yang telah disediakan.

Untuk menghidupi istri dan enam orang anaknya, dia harus mencari penghasilan tambahan. Menjadi pak Ogah, adalah jalan yang terbaik.

“Dalam sehari kadang dapat Rp300 ribu per bulan. Jumlah itu tentu akan jauh berkurang, kalau saya dan teman saya sama-sama ikut mengatur kendaraan yang mau putar,” katanya kepada Fajar.co.id, Selasa (25/2/2020).

Dengan jumlah itu, menurut dia, adalah jumlah yang tidak cukup. Uang yang didapat dari hasilnya sebagai pak Ogah, akan dipakai untuk membeli makanan, dan menghidupi sekolah anak-anaknya.

Sulit bagi dirinya untuk menyisihkan sebagian penghasilannya itu, untuk ditabung. Uangnya itu habis dipakai menutupi kebutuhan sehari-hari.

“Jumlah memang begitu kalau saya sendiri. Hasilnya tentu akan dipakai beli makanan, dan untuk anak-anak saya juga,” ujarnya.

Tidak hanya penghasilannya yang tidak menentu, rawan ditabrak kendaraan adalah resiko yang tidak boleh membuat dirinya berhenti bekerja.

Namun yang paling mereka tidak inginkan, saat petugas dari Satpol PP atau Dishub datang mengusir mereka. Otomatis, dia tidak dapat penghasilan apa-apa.

Tidak ada yang menjamin, penghasilan mereka akan selalu ada, jika petugas kerap datang mengambil lokasi, tempatnya mencari nafkah.

“Tidak enak memang ini pekerjaan. Kalau ada petugas datang, otomatis penghasilan kami tidak ada,” jelasnya.

Di mata pemerintah, keberadaan pak Ogah adalah sumber kemacetan di setiap jalan di Kota Makassar. Kemacetan kerap terjadi, utamanya saat jam kerja.

Untuk memberantas keberadaan pak Ogah, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Makassar harus bekerja lebih ekstra. Jumlah petugas yang dimiliki, tidak sebanding dengan titik yang biasa dimanfaatkan pak Ogah.

“Kami hanya memiliki anggota di lapangan sebanyak 250 orang, untuk mengatur lalu lintas di seluruh Kota Makassar,” kata Kepala Dishub Makassar, Mario Said. (Mg06)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : rasid alfarizi

Comment

Loading...