Guru Paksa 77 Siswa Makan Kotoran Manusia, Ini Komentar Ketum IGI

Rabu, 26 Februari 2020 09:49

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ketum Ikatan Guru Indonesia (IGI) M Ramli Rahim mengatakan, intensitas kejadian memalukan yang dilakukan tenaga pendidik semakin tinggi. Bahkan kejadian-kejadian tersebut sudah di luar nalar dan akal pikiran sehat manusia.

Kejadian terbaru adalah pemberian hukuman oleh guru pembina di sebuah sekolah di Maumere, NTT, di mana 77 siswa diminta memakan kotoran manusia. Padahal, tragedi susur sungai SMPN 1 Turi Sleman, belum selesai dibicarakan.

Pencabulan oleh guru dan kepala sekolah terhadap siswa-siswinya, menurut Ramli, semakin hari kian banyak yang terkuat. Malah pemberian hukuman dalam bentuk kekerasan fisik terus terulang.

Juga penyimpangan seksual, bully hingga menimbulkan korban serta perilaku-perilaku lain yang sesungguhnya sangat memalukan dunia pendidikan.

“Rentetan kejadian kejadian ini tak terlepas dari pola rekrutmen guru kita yang serampangan dan pemerintah cenderung lepas tangan dan membiarkan hal itu terus-menerus terjadi,” kata Ramli dalam pesan elektroniknya, Rabu (26/2).

Kemendikbud menurut Ramli, tidak pernah membuat aturan bagaimana pola rekrutmen guru non-PNS di sekolah-sekolah. Akibatnya yang terjadi adalah pola rekrutmen tidak jelas dan sama sekali tidak mempertimbangkan kompetensi sang guru.

Persoalan Kompetensi ini bukan hal yang sepele karena menyangkut 4 kompetensi dasar yang harus dimiliki seorang guru untuk bisa diberikan kepercayaan berdiri dihadapan kelas. Yaitu kompetensi profesional, pedagogik, sosial dan kepribadian.

Komentar