Kerap Berulah, 5 Larangan Imigran Pengungsi Selama di Indonesia

0 Komentar

Petugas imigrasi menindak imigran yang bekerja sebagai tukang cukur. (Instagram Rudenim Makassar)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– Keberadaan imigran pengungsi di Makassar acap kali menimbulkan permasalahan sosial. Mulai terlibat kasus kriminal hingga melanggar aturan keimigrasian yang ada.

Yang terbaru, imigran yang mencari suaka ini kedapatan bekerja sebagai tukang cukur di salah satu barber shop di Kota Makassar. Sebelumnya, beberapa imigran juga dirazia petugas Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Makassar sedang mengendari kendaran bermotor.

Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan Rudenim Makassar, Rita mengatakan pihaknya bertanggung jawab terhadap pengawasan para imigran ilegal ini selama ditempatkan di beberapa penampungan.

Pihaknya sendiri berpedoman terhadap Peraturan Direktur Jenderal Imigrasi nomor IMI-1489.UM.08.05 tahun 2010 tentang penanganan imigran ilegal. Dalam aturan ini, setiap pengungsi dari negara lain diminta menandantangani surat pernyataan pengungsi yang memuat lima aturan.

Pertama, pengungsi harus tinggal di tempat yang telah ditentukan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi, kecuali telah diberikan izin tertulis untuk dipindahkan atau dikeluarkan untuk alasan tertentu.

Kedua, pengungsi tidak di izinkan untuk berada di area pelabuhan udara atau laut, kecuali didampingi oleh petugas dari imigrasi.

Ketiga, pengungsi tidak di izinkan untuk menerima tamu yang menginap ataupun tinggal di tempat tinggal yang disediakan untuk mereka.

Keempat, pengungsi harus taat terhadap peraturan yang berlaku di Indonesia, termasuk tidak boleh mencari kerja, melakukan kegiatan yang berhubungan dengan mendapatkan upah, mengendarai kendaraan tanpa Surat Izin Mengemudi serta menjaga ketertiban lingkungan sekitarnya. Dan terakhir, pengungsi harus melaporkan diri ke pihak imigrasi Indonesia untuk mendatakan diri mereka secara berkala sekali 2 minggu.

“Untuk penanganan pelanggaran selama ini masih dilakukan secara persuasif. Seperti kemarin yang kedapatan bekerja di Burber Shop, kita sita kartu pengungsinya kemudian dipanggil ke kantor untuk diperingati agar tidak mengulangi,” kata Rita saat dikonfirmasi via telepon, Rabu (26/2/2020).

Penindakan berat yang dilakukan pihak Rudenim kepada pengungsi, menurut Rita hanya detensi atau menempatkan mereka di tahanan rudenim.

“Kalau yang dirazia kemarin dan kedapatan naik motor itu ada tujuh orang. Tiga diberi teguran di tempat karena urusan mendesak untuk pengobatan anaknya. Empat lainnya kita suruh buat pernyataan, kalau melanggar baru diberi efek jera,” jelasnya. (mg03/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...