Oknum Bidan Diduga Lakukan Pungli

Rabu, 26 Februari 2020 23:56

ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, SENGKANG — Oknum bidan di Kabupaten Wajo diduga melakukan pungutan liar (Pungli). Dia memanfaatkan pencairan gaji rekan seprofesinya.

Salah satu bidan asal Kecamatan Tanasitolo, berinisial C membenarkan itu. Kata dia, bidan Fatmawati yang bertugas di Puskesdes Lalliseng Kecamatan Keera meminta sejumlah uang.

Uang itu, nantinya diminta untuk disetor, setelah pencairan gaji CPNS bulan Juni, gaji 13 dan 14 tahun 2017. Yang rencananya dibayarkan pada tahun anggaran 2020 ini.

“Katanya untuk bayar jasa intelijen Sulsel. Karena pencairan gaji untuk 70 bidan itu dipakaikan pengurus,” ujarnya, saat ditemui FAJAR di Lapangan Merdeka Sengkang, Rabu, 26 Februari.

Namun, belakang rencana Fatmawati berkonflik. Dari 70 bidan tersebar di 14 kecamatan, hanya dari Tanasitolo dan Sabbangparu menolak. Karena uang yang dimintai terlalu banyak.

“Awalnya dia (Fatmawati, red) minta Rp1,5 juta, tetapi kemudian turun menjadi Rp1,3 juta,” tuturnya dengan tangan gemetaran bercerita.

Ibu dua anak ini, ketakutan membahas masalah tersebut. Sebab para bidan diminta untuk tutup mulut, atas sejumlah uang diminta Fatmawati.

“Dia yang urus ki ke itu intelijen, kita diminta jangan ribut kalau cair mi nanti itu gaji,” aku C yang kini bertugas di salah satu pusat kesehatan di Kecamatan Tempe.

Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Wajo, Armayani menyampaikan, pengusulan pencairan gaji bulan Juni, gaji 13 dan 14 tahun 2017 dari Dinas Kesehatan sudah dibayarkan.

“Per tanggal 19 Februari lalu kita sudah ajukan pencairan ke bank, total keseluruhan Rp467.939.855. Mungkin sudah cair ke masing-masing rekening penerima,” jelasnya.

Sementara, Bidan Puskesdes Lalliseng, Fatmawati yang hendak ditemui di Puskesdes Lalliseng tidak berhasil ditemui di kantor berlokasi Dusun Wirae. Saat dihubungi mengaku sedang berada di Kabupaten Wajo.

“Di Soppeng ka, lagi berobat. Nanti kita ketemu langsung,” (man)

Bagikan berita ini:
10
8
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar