Disarankan Tolak Penilaian Indonesia Negara Maju, Aviliani: China yang Negaranya Besar Saja Menolak

Jumat, 28 Februari 2020 10:42

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah disarankan menolak penilaian Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR), yang menyebutkan Indonesia sebagai negara maju.

Saran tersebut disampaikan ekonom senior dari lembaga kajian ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani.

“Tolak saja, China yang negaranya besar saja menolak, kita jangan diam karena akan mempengaruhi ekspor,” ujar Aviliani dalam konferensi pers bertema “Salah Kaprah Status Negara Maju” di Jakarta, Kamis (27/2).

Menurut dia, penilaian itu musti dipertanyakan mengingat terdapat beberapa hal yang belum sesuai bagi Indonesia untuk masuk ke dalam kategori negara maju.

Salah satunya, lanjut dia, peran ekspor Indonesia bagi pertumbuhan ekonomi nasional relatif masih kecil.

“Peranan ekspor bagi lndonesia tidak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi. Peranan ekspor terhadap PDB (produk domestik bruto) Indonesia baru mencapai kisaran 20-25 persen terhadap PDB,” paparnya.

Menurut Aviliani, ini berbeda dengan negara lain seperti Vietnam yang peranan ekspornya mencapai 105 persen terhadap PDB.

Ia juga mempertanyakan salah satu indikator penilaian AS, yakni lndonesia dianggap sudah memiliki porsi ekspor lebih dari 0,5 persen di dunia serta keanggotaannya di G 20.

“Hal ini dibenarkan bahwa share ekspor Indonesia pada 2018 mencapai 0,9 persen terhadap total ekspor dunia, namun ini tidak cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju karena tidak didukung oleh indikator lain seperti pendapatan nasional bruto (Gross National Income/GNI) per kapita serta indikator kesejahteraan lainnya,” katanya.

Komentar


VIDEO TERKINI