Personal Branding Politikus Milenial

Sabtu, 29 Februari 2020 08:40

Dr. Muhammad Qadaruddin,M.Sos.I (Penulis Buku Kepemimpinan Politik Perspektif Komunikasi)

Salah satu faktor kekalahan dalam berpolitik disebabkan karena kegagalan dalam merencanakan personal branding, ketidakmampuan para politikus menyampaikan pesan, program, mempengaruhi pemilih. Survei dari LIPI menunjukkan bahwa 60,6% generasi Z atau generasi muda yang lahir tahun 1995-2005 mengakses berita politik melalui akun media sosial. Oleh karena itu personal branding dianggap penting.

Beberapa kesalahan dalam personal branding, yakni positioning, kesalahan dalam menonjolkan sisi kelebihan kandidat (underpositioning), kesalahan dalam mendesain citra, slogan, pesan atau program yang dianggap berlebihan (overpositioning), pesan sering berubah-rubah, tidak konsisten (confused positioning), pesan, program yang disampaikan sulit dipercaya (doubtful positioning). Image, pesan dan program tidak dipahami voter dan kandidat tidak memiliki kelebihan yang menjadi pembeda dibandingkan dengan kandidat yang lainnya.

Kontestasi politik pilkada di tahun 2020 ini salah satu fenomena yang mencuri perhatian masyarakat adalah politikus milenial, yang lahir kisaran tahun 1980-2000. Diantara Politikus milenial sulawesi yang berhasil merebut hati voter adalah Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan dan banyaknya legislator milenial yang mengisi DPRD kota dan provinsi.

Pada pemilihan eksekutif tahun 2020 ini juga banyak diisi oleh calon-calon eksekutif milenial, diantaranya adalah calon Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau, calon Bupati Maros Devo Khaddafi, calon Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, dst.

Komentar