Personal Branding Politikus Milenial

0 Komentar


Dr. Muhammad Qadaruddin,M.Sos.I
(Penulis Buku Kepemimpinan Politik Perspektif Komunikasi)

Salah satu faktor kekalahan dalam berpolitik disebabkan karena kegagalan dalam merencanakan personal branding, ketidakmampuan para politikus menyampaikan pesan, program, mempengaruhi pemilih. Survei dari LIPI menunjukkan bahwa 60,6% generasi Z atau generasi muda yang lahir tahun 1995-2005 mengakses berita politik melalui akun media sosial. Oleh karena itu personal branding dianggap penting.

Beberapa kesalahan dalam personal branding, yakni positioning, kesalahan dalam menonjolkan sisi kelebihan kandidat (underpositioning), kesalahan dalam mendesain citra, slogan, pesan atau program yang dianggap berlebihan (overpositioning), pesan sering berubah-rubah, tidak konsisten (confused positioning), pesan, program yang disampaikan sulit dipercaya (doubtful positioning). Image, pesan dan program tidak dipahami voter dan kandidat tidak memiliki kelebihan yang menjadi pembeda dibandingkan dengan kandidat yang lainnya.


Kontestasi politik pilkada di tahun 2020 ini salah satu fenomena yang mencuri perhatian masyarakat adalah politikus milenial, yang lahir kisaran tahun 1980-2000. Diantara Politikus milenial sulawesi yang berhasil merebut hati voter adalah Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan dan banyaknya legislator milenial yang mengisi DPRD kota dan provinsi.

Pada pemilihan eksekutif tahun 2020 ini juga banyak diisi oleh calon-calon eksekutif milenial, diantaranya adalah calon Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau, calon Bupati Maros Devo Khaddafi, calon Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, dst.


Setiap kandidat akan mencitrakan dirinya dengan beragam cara, membangun performa dengan religius, dengan memakai kopia dan baju koko, berpakaian putih. Pekerja keras dengan melipat lengan baju.

Politikus santun dan pro rakyat dengan berbicara dengan baik depan pemilih, berfoto (wefie) bersama rakyat petani, nelayan, pedagang di pasar, tukang ojek. Performa yang ditampilkan dengan pemilih memiliki peran-peran tertentu yang akan memperkuat personal branding. Membangun personal branding tidaklah semudah membangun citra, seorang politikus harus mampu mengoptimalkan pontensi dirinya, citra diri dan citra kerja.

Diperlukan konsistensi dalam membangun citra diri dan citra kerja, misalanya dalam membangun citra diri yang santun, dekat dengan masyarakat miskin, maka dalam realitas sosialnya pun demikian, itulah yang dinamakan personal branding.


Pengertian citra Menurut Lippman (2007) citra adalah gambaran tentang realitas dan tidak harus sesuai dengan realitas. Citra adalah dunia menurut persepsi seseorang Lippman menyebutnya dengan “the picture in our head”. Citra terbentuk dari informasi yang di terima.


Salah satu cara dalam meningkatkan personal branding adalah dengan cara kampanye politik. Kampanye sejatinya merupakan bentuk komunikasi politik, sebagai upaya memersuasi pemilih (voter), agar pada saat pencontrengan, pasangan kandidat yang berkampanye mendapatkan dukungan dari banyak kalangan, Roger dan Storey dalam Communication Campaign mendefinisikan kampanye sebagai serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurung waktu tertentu.


Dalam kampanye ada beberapa prinsip pokok yang selayaknya memperoleh perhatian serius dalam pengembangan strategi kampanye yakni, positioning, targeting, segmenting. (Gungun Heryanto, 2013)


Strategi Positioning, apa yang menjadi keunggulan politikus milenial ini misalnya keunggulannya muda, energik, cerdas, hebat, cara mengemas politikus muda. Positioning adalah cara menggambarkan kandidat atau partai politik kepada segmen yang relevan agar memilih, dan berpindah dukungan ke kandidatnya dengan cara membujuk pemilih dengan image kandidat, track record, program serta reputasinya


Strategi segmentasi, kelompok, karakteristik sesuai kemasan politikus milenial, segmentasi adalah sebuah strategi dalam pemasaran politik dalam proses pendekatan terhadap masyarakat dalam setiap lapisan, dasar segmentasi pemilih adalah dengan segmentasi geografis, demografis, psikografi, perilaku, sosial budaya dan sebab akibat.

Berdasarkan positioning kandidat, maka dapat digambarkan segmentasinya adalah masyarakat pulau, ASN, Masyarakat kelas bawah, masyarakat kota. Berdasarkan segmentasi maka partai politik dapat menyusun , program kerja, kampanye politik, sosialisasi, dan produk politik (Firmansyah, 2012: 187 dalam Arin Fatmawati: 2018)


Targeting, setelah langkah segmentasi maka langkah selanjutnya adalah targeting, dalam proses ini yang perlu dilakukan adalah melakukan pendekatan politik, membentuk opini politik kepada kelompok-kelompok masyrakat berdasarkan kebutuhan-kebutuhan kelompok masyarakat. Politikus milenial melakukan targeting pemilih rasional dan pemilih tradisonal dan pemilih pemula, pemilih melek media, pengguna internet, masyarakat miskin (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...