Personal Branding Politikus Milenial

Sabtu, 29 Februari 2020 08:40

Setiap kandidat akan mencitrakan dirinya dengan beragam cara, membangun performa dengan religius, dengan memakai kopia dan baju koko, berpakaian putih. Pekerja keras dengan melipat lengan baju.

Politikus santun dan pro rakyat dengan berbicara dengan baik depan pemilih, berfoto (wefie) bersama rakyat petani, nelayan, pedagang di pasar, tukang ojek. Performa yang ditampilkan dengan pemilih memiliki peran-peran tertentu yang akan memperkuat personal branding. Membangun personal branding tidaklah semudah membangun citra, seorang politikus harus mampu mengoptimalkan pontensi dirinya, citra diri dan citra kerja.

Diperlukan konsistensi dalam membangun citra diri dan citra kerja, misalanya dalam membangun citra diri yang santun, dekat dengan masyarakat miskin, maka dalam realitas sosialnya pun demikian, itulah yang dinamakan personal branding.

Pengertian citra Menurut Lippman (2007) citra adalah gambaran tentang realitas dan tidak harus sesuai dengan realitas. Citra adalah dunia menurut persepsi seseorang Lippman menyebutnya dengan “the picture in our head”. Citra terbentuk dari informasi yang di terima.

Salah satu cara dalam meningkatkan personal branding adalah dengan cara kampanye politik. Kampanye sejatinya merupakan bentuk komunikasi politik, sebagai upaya memersuasi pemilih (voter), agar pada saat pencontrengan, pasangan kandidat yang berkampanye mendapatkan dukungan dari banyak kalangan, Roger dan Storey dalam Communication Campaign mendefinisikan kampanye sebagai serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurung waktu tertentu.

Komentar


VIDEO TERKINI