Menggandeng Pers, Meliput COVID-19

0 Komentar

Harpiana Rahman

Oleh: Harpiana Rahman
Dosen Kesehatan Masyarakat FKM UMI

COVID-19 adalah nama penyakit yang ditetapkan oleh WHO untuk menyebut infeksi novel coronavirus pada manusia, berasal dari singkatan Coronavirus Disease yang ditemukan pada tahun 2019. Sejak mewabah, dan dinyaktakan sebagai  Public Health Emergency of International Concern (PHIC) atau darurat kesehatan masyarakat internasional oleh WHO,  masyarakat Indonesia juga turut terkepung dengan hoax seputar COVID-19.  Kominfo menghitung terdapat  86 hoax terkait virus corona yang disebar melalui pesan media sosial di Indonesia. 

Ada beragam isu, mulai dari berita munculnya COVID-19 di beberapa kota besar di Indonesia, meninggalnya pekerja asal Tiongkok akibat COVID-19, hingga isu bahwa novel coronavirus  adalah senjata biologis yang sengaja dibuat untuk memusnahkan kelompok tertentu. Penemuan hoax ini menjadi konsumsi publik yang nyaris mampu menggiring opini masyarakat  untuk menyerang ideologi  dan ras tertentu.  Ironisnya,  isu demikian selalu muncul dengan cepat,  bertahan lama di ruang publik dan mendapat banyak pembaca. Kondisi ini mengakibatkan tidak terpenuhinya hak masyarakat dalam menerima informasi ilmiah terkait penyakit itu sendiri.

Berdasarkan  respon masyarakat selama 20 tahun terakhir dalam menghadapi  penyakit baru  seperti SARS, MERS,dll kemunculan wabah penyakit selalu disertai dengan munculnya kepanikan massal pada masyarakat.  Kepanikan massal muncul akibat kurangnya informasi akurat yang diterima oleh masyarakat sehingga berakibat terbentuknya pehamanan yang keliru terkait penyakit.

Seperti dalam upaya pencegahan penularan penyakit,  masyarakat cenderung menghindari suku atau ras tertentu dari pada menghindari  agen penyakit ataupun perilaku beresiko. Pemahaman  ini tumbuh subur bersamaan kurang  massifnya ketersediaan informasi yang tepat dan cepat  terkait  cara penularan dan pencegahan penyakit. Pola ini tidak muncul begitu saja.  Pers sebagai corong utama masyakarat dalam memperoleh informasi tentu punya andil dalam pengaburan informasi yang diterima masyarakat, khususnya dalam investigasi wabah ataupun Kejadian Luar Biasa (KLB).

Misalnya, beberapa hari setelah COVID-19 mewabah,media berita online pun gencar menanyangkan berita seputar novel coranavirus. Sayangnya penayangan berita yang terburu-buru nyaris mengabaikan fakta terkait informasi penyakit yang jauh lebih penting untuk disampiakan kepada masyarakat.  Ditemukan salah satu  portal berita menuliskan bahwa novel coronavirus bisa mati dengan berwudhu. Tanpa  menekankan dan menegaskan kepada pembaca bahwa penularan novel corona virus bisa dicegah dengan melakukan penegakan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat)  dalam kehidupan sehari-hari seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan, ataupun setelah melakukan kontak dengan binatang. Ditemukan juga portal berita yang menuliskan bahwa pencegahan penularan novel coronavirus bisa dilakukan dengan berdoa.

Bahkan potongan kutipan wawancara Menteri Kesehatan tersebut dijadikan sebagai judul berita tanpa mempertimbangkan bahwa masyarakat memerlukan informasi yang cepat, tepat dan lengkap perihal penyakit. Pemberitaan semacam ini tentu mempengaruhi  pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat dalam merespon penyakit. Pemahaman yang keliru terkait penyakit akan mengantarkan masyarakat pada perilaku beresiko sehingga lebih rentan tertular penyakit. Lebih lanjut, pers dalam memberitakan  penyakit juga mengaburkan fakta publik dan fakta personal,  lebih cenderung mengangkat fakta personal daripada fakta publik. Salah satu TV swasta yang menyiarkan berita tentang WNI positif terenfeksi novelcorona virus di Singapura, lebih banyak mengangkat fakta personal dari WNI tersebut berupa informasi keluarga. Fakta publik seperti cara penularan dan perawatan WNI penderita Covid 19 nyaris dilupakan.   

Dalam penanganan wabah ataupun KLB, kesadaran masyarakat menjadi hal utama untuk diperhatikan. Dalam UU No.4 Tahun 1984 tentang  Wabah penyakit Menular  pasal 6 diatur bahwa masyarakat secara aktif terlibat dalam penanggulan  wabah / KLB.  Dan pers adalah satu-satunya alat dan media yang mampu menjadi jembatan penghubung antara tim investigasi wabah dan masyarakat dengan memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan  informasi yang tepat. Sayangnya, dalam penanggulangan  wabah/KLB  penyakit, pers hanya hadir sebagai pemberi kabar kepadanya masyarakat tanpa berpikir panjang memprediksi efek dari penulisan berita yang tidak akurat.

Lantas,bagaimana  menggandeng pers untuk meredam hoax dan wabah/KLB penyakit? Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular, pasal 17 dinyatakan  bahwa  penyuluhan kepada masyarakat dilakukan dengan mendayagunakan berbagai media komunikasi massa baik pemerintah maupun swasta.  Hanya saja pada praktiknya, pers sering terlupakan dalam penanggulangan wabah/KLB.

Padahal pers adalah kunci mengontrol kesadaran masyarakat.  Berdasarkan pertaturan pemerintah tersebut, tim investigasi wabah dalam hal ini tenaga kesehatan dan para ahli sepatutnya menggandeng pers sebagai mitra kerja yang bertugas mengendalikan opini publik terkiat penyakit. Dalam menghadapi ancaman KLB COVID-19, pers sudah saatnya menjadi media KIE (komunikasi, informasi, edukasi) kesehatan bagi masyarakat untuk  meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait penyakit.   Untuk mewujudkannya, tim invertigasi wabah harus terbuka menyambut pers dalam pemberian informasi.

Hingga saat ini, terhitung penderita COVID-19 menembus angka 67.000 dengan kematian telah mencapai lebih dari 1500 orang.  Sebagai upaya mencegah KLB COVID 19 di Indoensia, pemerintah telah menerbitkan surat edaran kepada seluruh dinas kesehatan  dan RS tentang kesiapsiagaan pencegahan penyebaran COVID-19, juga telah dilakukan peningkatan dan pengawasan oleh Kantor  Kesehatan di pelabuhan dan bandara.

Upaya tersebut bisa berjalan efektif dan berdampak bagi masyarakat, hanya jika pers bekerja sebagaimana mestinya. Yakni tidak hanya mengabarkan berita tapi juga akurat dalam menyampaikan informasi terbaru kepada masyarakat, membawa misi mencerdaskan pembaca dengan berita yang sahih. Pers adalah tonggak pertama dalam kesehatan masyarakat, pers bertanggung jawab atas pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Sudah saatnya pers mengabarkan penyakitnya, bukan orang atau sukunya.  (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...