Divonis 10 Tahun Penjara, Oknum Guru Cabul Hendak Bunuh Diri

Rabu, 4 Maret 2020 22:33

ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, MAROS — Oknum guru di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros, Rudi Samola (60) yang menjadi terdakwa pencabulan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara di Pengadilan Negeri Maros di Jalan Ratulangi, Rabu, 4 Maret 2020.

Terdakwa dinyatakan terbukti bersalah dan melakukan pencabulan secara paksa terhadap enam orang siswinya di ruangan kelas pada Agustus 2018 lalu.

Sehingga oleh Hakim Ketua, Rubianti bersama hakim anggota Nasrul Kadir dan Fifianti menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara denda Rp5 Juta dan subsider satu bulan penjara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Maros, Mona Lasisca membenarkan vonis 10 tahun yang dijatuhkan kepada terdakwa.

Selain pidana 10 tahun penjara, lanjutnya, terdakwa juga dikenakan denda Rp5 juta dan jika tak bisa membayar denda diganti dengan hukuman satu bulan penjara.

Menariknya lagi dalam proses pembacaan putusan itu terdakwa yang tak menerima putusan hakim sempat histeris dan ingin menghabisi nyawanya.

“Saat pembacaan amar putusan itu, terdakwa ingin bunuh diri dengan menggunakan tali dari kain sebagai pengganti ikat pinggang. Tali itu dililitkan ke leher, tapi berhasil dibatalkan oleh pengamanan dan teman jaksa lain yang ada di ruang sidang,” jelasnya.

Walau demikian pembacaan amar putusan tetap dilanjutkan hingga sidang berakhir dengan pertimbangan terdakwa didampingi penasihat hukumnya.

“Tetap dilanjutkan persidangannya, sambil terdakwa dipegang oleh 4-5 orang,” sebutnya.

Dia menjelaskan bahwa awalnya proses persidangan ini berjalan kondusif dan tidak ada gejolak.

Bahkan saat terdakwa dinyatakan bersalah dan telah melakukan pencabulan secara paksa terhadap anak.

“Terdakwa mulai terlihat tidak tenang saat pembacaan amar putusan kedua, terkait penjatuhan pidana 10 tahun penjara, baru dia reaktif mengancam akan bunuh diri dengan melilit tali di leher dan ditahan,” sebutnya.

Dia mengatakan, vonis yang dijatuhi terhadap terdakwa ini lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut. Di mana tuntutannya 12 tahun penjara, denda Rp10 juta dan subsider 6 bulan penjara.

“Jadi vonisnya lebih rendah dari tuntutan kami. Dengan pertimbangan dua hal yang meringankan karena terdakwa belum pernah dihukum dan dianggap sudah berusia lanjut,” jelasnya.

Sementara itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) lainnya, Novita Kristiarini mengatakan meski putusannya lebih rendah dari tuntutan jaksa. Namun, pihaknya masih memiliki waktu tujuh hari untuk pikir-pikir melakukan banding atau tidak.

“Kita masih pikir-pikir apakah akan banding atau seperti apa. Kita punya waktu tujuh hari,” sebutnya.

Dalam kasus ini kata dia, ada enam orang anak yang menjadi korban pencabulan.

Sekadar diketahui, kasus pencabulan ini diperkirakan terjadi pada Agustus 2018 lalu. Namun mulai ditangani oleh penyidik Polres Maros pada pertengahan tahun 2019.

Sementara di Kejaksaan Negeri Maros kasus ini ditangani sekitar tiga bulan lamanya. (rin)

Bagikan berita ini:
7
5
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar