Jejak Bugis di Semenanjung Melayu: Opu Daeng Rilakka, Pemimpin di Perantauan (2)

Jumat, 6 Maret 2020 10:43

Rumah adat khas Melayu di Kampung Bharu, Kuala Lumpur, Malaysia (dok Jawa Pos)

Kebesaran Bugis di Semenanjung Melayu tak lepas dari Dinasti Opu Daeng Rilakka dan lima putranya yang legendaris. Mereka berhasil berbaur dan terlibat perebutan politik kekuasaan di kerajaan-kerajaan Melayu.

Dari buku Silsilah Melayu dan Bugis yang disusun dan dikaji oleh Arena Wati, silsilah Opu Daeng Rilakka diterangkan menurut Ejaan Bahasa Melayu Asli. Terdapatnya sejumlah nama yang tidak sesuai lafal bahasa Bugis.

Boleh jadi disebabkan bukan karena pengkajian bersumber dari buku Tuhfat al Nafis karangan Raja Ali Al Haji yang tertulis dalam tulisan Jawi. Umpamanya nama “Sasong Rewo” semestinya “Sessungriu'”.

Dari silsilah tersebut memperjelas bahwa Opu Daeng Rilakka masih keturunan Datu Luwu I Batara Guru. Malahan jika dicantumkan dari jalur keturunan ibunya, bersumberkan silsilah raja-raja Luwu.

Makanya, ibu La Maddusila (La Maddusalat) yang bernama We Tenrileleang ternyata dua kali menjadi Datu Luwu, yaitu yang ke-24 dan ke-26. Watenrileleang yang dua kali bersuami, pertama dengan La Mappasali Datu Pattojo, dan kedua dengan La Mallarangeng Datu Lompulle.

Buku Silsilah Melayu dan Bugis (diusahakan oleh Mohd Yusuf, Md. Nor, terbit di Selangor) perihal keterlibatan Opu Daeng Rilakka beserta kelima putranya membaur sekaligus menegakkan kedaulatan Johor.

Di dalam silsilah Kerajaan Luwu dan Soppeng terdapat nama La Maddusila putra Pajung ke-24 dan 26- Luwu. We Tenrileleang dengan suami pertamanya La Mallarangeng Datu Lompulle melahirkan: (1) We Panangareng, (2) Tenrisessu, (3) La Maddusila. La Maddusila kawin dengan Iseno Tenribali Datu Citta putri Datu ke-23 Soppeng. La Oddangriu saudara kandung We Tenrileleang dari ayahanda dan ibunda La Rumpamegga TonSappaile dan Datu Luwu ke-22 Batara Tungke.

Komentar