Dituding Rekayasa Rekomendasi Golkar, AHP: Hasil Survei, Saya Tertinggi

Selasa, 10 Maret 2020 23:49

Andi Hamzah Pangki (AHP) membantah tudingan Jamaluddin M Syamsir (JMS) terkait surat tugas dirinya di Pilkada Bulukumba adalah rekayasa Ketua DPD I Golkar Sulsel, Nurdin Halid.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR— Andi Hamzah Pangki (AHP) membantah tudingan Jamaluddin M Syamsir (JMS) terkait surat tugas dirinya di Pilkada Bulukumba adalah rekayasa Ketua DPD I Golkar Sulsel, Nurdin Halid.

Ketua DPD II Golkar Bulukumba ini menegaskan surat tugas yang diberikan kepadanya sudah melalui persetujuan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

“Pak NH tidak mungkin rekayasa, yang tanda tangan rekomendasi Pak Ketum. Yang menyerahkan juga adalah Ketum diparaf oleh Pak Muhidin (Ketua PP Sulawesi),” kata AHP kepada Fajar.co.id, Selasa (10/03/2020).

AHP menyebutkan saat rapat penetapan usungan di DPP, dirinya sendiri hadir bersama Ketua DPD II dari 12 kabupaten/kota. Saat itu, NH juga hadir dan menyampaikan hasil penjaringan yang dilakukan pihaknya.

“Tidak ada hasil rapat mengatakan bahwa Jamal yang akan direkomendasikan. Tapi Pak NH mengatakan bahwa berdasarkan survei adalah yang tertinggi adalah Hamzah Pangki. Bahkan 7 lembaga survei merilis saya yang tertinggi, seperti SDI dan Saiful Mujani Riset,” tegas AHP.

Anggota DPRD Bulukumba ini menyebutkan pertimbangan lain sehingga dirinya diberikan surat tugas adalah pengalaman dirinya menjadi Ketua DPRD Bulukumba dan Ketua DPD II Golkar dua periode.

“Itu keputusan, ada rekamannya rapat tersebut. Olehnya itu tidak benar apa yang dikatakan Jamal di koran FAJAR. Jadi ini tidak rekayasa, sudahlah adindaku Jamal masih mudah masih panjang perjalanan karirnya,” pungkasnya.

Sebelumnya, anggota Bappilu DPP Golkar, Jamaluddin M Syamsir menuding NH merekayasa surat tugas untuk Pilkada Bulukumba. Rekayasa ini dinilai untuk memuluskan Musda Golkar Sulsel. (Mirsan)

Ketua DPD II Golkar Bulukumba, Andi Hamzah Pangki. (Instagram Andi Hamzah Pangki)

Bagikan berita ini:
1
1
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar