Corona, Ketakutan, dan Harapan

Ilustrasi

Oleh: Aditya Nurullahi Purnama, Tenaga Ahli Anggota Komisi VIII DPR RI

FAJAR.CO.ID — Prediksi bahwa Indonesia “kebal” dari Corona akhirnya terpatahkan. Pada hari Senin (3/3/2020) Presiden Jokowi secara resmi mengumumkan dua warga negara Indonesia terjangkit virus Corona.  Kedua pasien tersebut masih ditangani secara intensif di ruang perawatan khusus di RSPI Sulianti Suroso. Belum lama berselang. RSPI kembali menerima tujuh pasien tambahan yang diduga memiliki gejala hampir sama dengan penderita virus Corona. Sampai saat ini ketujuh pasien tambahan tersebut masih dalam status pengawasan oleh pihak rumah sakit. Berdasarkan data terbaru yang diperoleh dari Worldometer, tercatat telah terjadi total 93.062 kasus infeksi dengan total korban yang meninggal sebanyak 3.198 kasus di 76 negara di dunia. Kendati penyebaran virus Corona ini sudah menjadi bencana global, sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk menangkal penyebaran virus ini.

Sejumlah negara secara beruntun memberikan laporan secara resmi terkait perkembangan penyebaran virus Corona di negaranya. Hasil dari laporan terbaru yang dirilis WHO per 1 Maret 2020 menunjukan Cina dan Korea Selatan menempati posisi dua teratas dalam kasus terbanyak Corona dengan masing-masing kasus sebanyak 79.968 kasus dan 3.736 kasus yang terkonfirmasi. Sedangkan untuk wilayah Asia Tenggara, Thailand menempati posisi teratas dengan total 42 kasus terkonfirmasi. Menyikapi wabah tersebut, beberapa negara telah mengambil langkah sigap dalam merespon isu global ini.  

Melansir dari Reuters (2/3/2020), Laboratorium militer pemerintah Amerika Serikat tengah berusaha mengembangkan vaksin virus Corona. Namun, menurut keterangan  pejabat tinggi di Kementerian Kesehatan AS, vaksin baru akan siap 18 bulan lagi. Selain AS, Israel bahkan mengklaim telah menemukan vaksin pertama untuk melawan virus Corona. Dilansir dari Jerussaalem Post (27/2/2020), vaksin yang ditemukan oleh MIGAL (Institut Penelitian Galilea) diperkirakan akan siap dalam beberapa minggu ke depan sebelum mulai dipasarkan.

Bergeser ke Asia Tenggara, kita bisa belajar dari negara tetangga; Vietnam dan Singapura. Vietnam saat ini tercatat sebagai negara pertama di Asia yang mengumumkan semua pasien virus corona di negaranya telah sembuh total. Sebelumnya, jumlah pasien yang pernah tercatat di negara tersebut sejumlah 16 orang.

Dalam merespon penyebaran wabah tersebut, Pemerintah Vietnam memiliki panduan terpadu dalam menangani kasus corona. Dipioneri oleh Menteri Kesehatan, departemen kesehatan, beserta jajarannya kerap mengadakan pertemuan intensif hampir setiap hari untuk menjalankan serangkaian protokol dari pemerintah serta selalu menyuplai publik dengan informasi terbaru. Selain itu Pemerintah juga mendorong warga negaranya untuk siap siaga melawan virus. sehingga permintaan warga untuk diperiksa secara medis juga meningkat. Pemerintah juga menyediakan pusat karantina khusus bagi pasien yang terinfeksi. Pusat karantina ini dibangun jauh dari pemukiman penduduk dan setiap pasien di sana ditangani oleh tim dokter dengan perlengkapan khusus.

Selain itu, dikutip dari katadata (3/3/2020) Singapura juga telah melaporkan sebagian besar warganya yang terinfeksi virus corona dinyatakan telah sembuh. Dari 108 orang yang terinfeksi, 78 diantaranya dilaporkan sembuh. Keberhasilan Singapuran dalam menangani virus Corona yang menjangkiti warganya tidak lepas dari dua langkah strategis yang dilakukannya. Pertama, transparansi. Pemerintah Singapura selalu memberikan kabar terbaru kepada warganya melalui kanal informasi yang terpusat di Kementerian Kesehatan. Hal tersebut untuk mengantisipasi penyebaran hoax dan kesemrawutan informasi agar tidak semakin memperkeruh kepanikan publik. Kedua, sinergisitas lembaga, yaitu kerjasama yang terukur dan terarah, dalam hal ini antara Kementerian Kesehatan dengan lembaga internasional seperti WHO. Hal tersebut memungkinkan penanganan medis yang dilakukan terhadap pasien dikerjakan sesuai dengan standar WHO.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Pasca pengumuman postif corona dari Presiden Joko Widodo terjadi kepanikan massal di akar rumput. Hal tersebut bisa dilihat dari fenomena “panic buying” dimana sejumlah tempat perbelanjaan diserbu oleh masyarakat. Mereka cemas jika virus ini semakin meluas akan menciptakan kelangkaan barang seperti sembako, dan alat kesehatan seperti masker, hand sanitizer, dan cairan antiseptic. Kondisi instabilitas adalah hal yang wajar terjadi mengingat masyarakat Indonesia belum memiliki persiapan memadai dalam menghadapi ancaman tersebut.

Kendati demikian, kita perlu berpikir jernih meskipun dalam situasi genting. Perlu adanya rencana strategis yang dipioneri oleh pemerintah kemudian partisipasi aktif masyarakat dalam merespon situasi ini sehingga masyarakat bisa berpindah dari suasana ketakutan menuju harapan. Oleh karena itu, ada tiga poin utama yang penulis usulkan untuk memulai langkah tersebut

Pertama, dalam kerangka sosiologis masyarakat Indonesia berhak memperoleh jaminan perlindungan dari negara di tengah kondisi waspada Corona. Abraham Maslow menyatakan bahwa terdapat 5 kebutuhan dasar manusia. Salah satunya adalah kebutuhan akan rasa aman. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa rasa aman ini diantaranya rasa aman dari daya mengancam seperti teror, perang, bahkan penyakit. Oleh sebab itu, pemerintah perlu menempatkan isu kesehatan sebagai isu prioritas saat ini. Mereka perlu mengubah pola komunikasi yang sebelumnya bersifat pasif menjadi aktif. Pola komunikasi aktif bisa diwujudkan melalui sosialisasi secara komprehensif terkait pencegahan, penanganan, sampai informasi terkait layanan kesehatan yang tersedia terkait virus Corona kepada masyarakat. Hak tersebut bahkan ditegaskan dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan pasal 7 yang berbunyi;

“Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab.”

Pemerintah perlu menggandeng banyak stakeholder, lintas kementerian maupun dengan sektor swasta agar pesan yang disampaikan lebih kuat, bahkan mampu menyentuh sampai entitas terkecil masyarakat yang ada di pelosok. Upaya edukasi secara massif adalah langkah pre-emtif untuk memperkecil ruang penularan virus di tengah masyarakat.

Kedua, pemerintah perlu menindak tegas oknum pedagang yang melakukan penimbunan stok alat kesehatan maupun kebutuhan pokok di tengah situasi genting. Kehadiran negara dalam situasi pelik akan mampu menguatkan daya juang masyarakat serta meningkatkan simpati publik. Salah satunya adalah dengan memastikan ketersediaan bahan pokok yang cukup dengan harga yang stabil. Selain itu, pemerintah perlu mengupayakan ketersediaan alat proteksi dini seperti handsanitizer, antiseptic, atau masker yang dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Sejalan dengan pendapat Drajad Wibowo, peneliti dari INDEF, anggaran tersebut bisa diambil dari anggaran yang digelontorkan untuk insentif pariwisata senilai 500M. Apalagi belum ada dana penanggulangan bencana yang akan digunakan untuk menjamin ketersediaan masker. Selain itu, jumlah dana yang besar ini juga akan terserap dengan baik jika digelontorkan untuk dana uji laboratorium mengingat kecepatan konfirmasi sangat krusial dalam penanganan kasus.

Ketiga, penulis memandang perlunya memperkuat sinergisitas antar lembaga negara melalui pembentukan task force mengingat dampak yang ditimbulkan oleh wabah corona bersifat multidimensional, yakni tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan tetapi juga berimbas pada aspek ekonomi, sosial, bahkan ketahanan nasional. Perlu ada upaya untuk mengonsolidasikan kekuatan melalui pelibatan berbagai pihak mulai dari instansi sipil sampai militer, dari tingkat pusat sampai ke daerah. Pembentukan task force ini juga perlu mengedepankan program kerja yang terukur, terarah, dengan koordinasi yang terpadu namun tetap dalam pengawasan agar dalam pelaksanaanya bisa berjalan secara efektif dan bertanggungjawab.Wabah Corona sudah kadung terjadi. Meskipun sudah memakan banyak korban jiwa, terselip harapan dengan fakta bahwa banyaknya pasien di beberapa negara yang terdampak berhasil pulih. Sebaik-baik upaya yang bisa dilakukan secara kolektif saat ini adalah mengedepankan tindakan edukasi, alihfungsi anggaran, dan sinergisasi antar lembaga di pemerintah maupun kerjasama di tengah masyarakat. Melalui semangat gotong royong dalam melawan ancaman Corona ini, penulis optimis bahwa tantangan ini hanya akan membuat bangsa ini lebih kuat dan solid dalam menghadapi berbagai tantangan lain di depan

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : rasid alfarizi

Comment

Loading...